WHO: Tidak Ada Bukti Ilmiah bahwa Covid-19 Kehilangan Potensi

0
(0)

enewa – Para pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah ilmuwan lainnya mengatakan bahwa tidak ada bukti yang mendukung pernyataan seorang dokter terkenal Italia bahwa virus corona yang menyebabkan pandemi Covid-19 telah kehilangan potensi dan tidak semematikan dua bulan lalu, Senin (1/6).

Sebelumnya, Profesor Alberto Zangrillo, kepala perawatan intensif di Rumah Sakit San Raffaele Italia di Lombardy, mengatakan kepada televisi pemerintah, Ahad (31/5), bahwa virus korona secara klinis tidak lagi semematikan dua bulan lalu.

Tetapi ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, serta beberapa ahli lain tentang virus dan penyakit menular, mengatakan komentar Zangrillo tidak didukung oleh bukti ilmiah.

Tidak ada data yang menunjukkan bahwa virus corona berubah secara signifikan, baik dalam bentuk penularannya atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya. “Dalam hal penularan, itu tidak berubah, dalam hal keparahan, itu tidak berubah,” kata Van Kerkhove kepada wartawan.

Bukan hal yang aneh bagi virus untuk bermutasi dan beradaptasi ketika mereka menyebar, dan debat pada Senin (1/6) di WHO, menyoroti bagaimana para ilmuwan memantau dan melacak virus baru. Pandemi Covid-19 sejauh ini menewaskan lebih dari 370.000 orang dan menginfeksi lebih dari 6 juta.

Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular yang muncul di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan penelitian besar yang melihat perubahan genetik pada virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 tidak mendukung gagasan bahwa itu menjadi kurang kuat, atau melemah dengan cara apa pun.

“Dengan data dari lebih dari 35.000 genom dari seluruh virus, saat ini tidak ada bukti bahwa ada perbedaan signifikan terkait dengan tingkat keparahan,” kata Hibberd dalam komentar yang dikirim melalui email.

Zangrillo, yang terkenal di Italia sebagai dokter pribadi mantan Perdana Menteri Silvio Berlusconi, mengatakan komentarnya didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh sesama ilmuwan, Massimo Clementi, yang menurut Zangrillo akan diterbitkan minggu depan.

“Kami tidak pernah mengatakan bahwa virus berubah, kami mengatakan bahwa interaksi antara virus dan inangnya benar-benar berubah.” Kata Zangrillo kepada Reuters.

Dia mengatakan ini bisa disebabkan oleh karakteristik virus yang berbeda, yang menurutnya belum diidentifikasi, atau karakteristik berbeda pada mereka yang terinfeksi.

Penelitian oleh Clementi, Direktur Laboratorium Mikrobiologi dan Virologi San Raffaele, membandingkan sampel virus dari pasien Covid-19 di rumah sakit yang berbasis di Milan pada bulan Maret dengan sampel dari pasien dengan penyakit pada bulan Mei.

“Hasilnya jelas, perbedaan yang sangat signifikan antara viral load pasien yang dirawat di bulan Maret dibandingkan dengan yang dirawat bulan lalu,” kata Zangrillo, yang dilansir Channel News Asia.(04/NE)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Luhut Sebut Omnibus Law Bakal Rampung Awal Juli

Wed Jun 3 , 2020
0 (0) Jakarta–Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut rancangan undang-undang Omnibus Law rampung pada Juni mendatang. Dengan rampungnya undang-undang ini, menurut Luhut, bisa langsung menggenjot investasi di tanah air. “Kalau Omnibus Law jadi, kita pasti akan jadi negara paling mudah investasi. Tapi tentu harus mengikuti kaidah […]