Tidak Menggunakan AC dan Jangan Mudik

0
(0)

Oleh: Soerjatmono, dokter spesialis anak tinggal di Kediri.

Sejak mulainya wabah virus corona di Wuhan, Hubei, Cina, tentunya semua umat manusia, khususnya insan kesehatan, saat itu dibuat terkejut. Dalam benaknya semua berpikir, apa yang kita bisa lakukan kalau virus itu menuju ke sini. Tentu tidak bermaksud mengharap tapi hari-hari diliputi rasa cemas.

Jelas semua tidak mengharapkan corona menyebar ke mana-mana. Namun dalam era globalisasi dengan pergerakan manusia yang tiada batasnya, rasanya mustahil viru itu tidak menyebar sampai ke negeri kita.

Ketika awal Maret, setelah secara resmi diumumkan adanya warga negara Indonesia dinyatakan positif Covid-19 sebagai pasien 01 dan 02, maka kehebohan di masyarakat dimulai. Kehebohan mencari informasi sama ramainya dengan kegaduhan dalam mencari solusi.

Lebih waswas lagi saat dinyatakan penyakit itu belum ada obatnya secara pasti dan masih dilakukan penelitian oleh para ahlinya. Kala itu kita semua diharapkan meningkatkan status imunitas kita. Di situlah segala macam ide dan upaya di masyarakat mulai dilakukan .

Munculah upaya konsumsi empon-empon, daun kelor, minum air jeruk nipis, kumur dengan air garam, air hangat, makan sayuran tujuh rupa, makan ketela, konsumsi buah alpukat, pisang, jeruk, wortel, dan tomat. Bahkan ada anjuran minum minyak kelapa selanjutnya berjemur, serta gerakan-gerakan khusus yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

Akan tetapi ada pula yang membuat guyonan dan pernyataan yang aneh-aneh. Di sinilah mulai terjadi interaksi masyarakat yang luar biasa walaupun harus dengan berdebat memberi saran, mengajari, berbagi pengalaman, dan lain-lain. Kalau kita ingat kembali kadang itu bisa memaksa kita tersenyum, di masa-masa sekarang ini yang masih sulit terenyum.

Seminggu setelah munculnya kasus Covid-19 pertama, berturut-turut diumumkan korban korban yang baru yang membuat miris dan heboh kita semua. Kemudian saya mulai mencoba mengamati dari berbagai sumber. Ternyata ada kecenderungan penularan corona virus di daerah atau tempat yang dingin seperti Wuhan, yaitu di Korea, Jepang, Italia, dan Spanyol, Amerika Serikat. Itu terjadi kala mereka bertemu dengan orang yang terpapar virus corona.



Bagaimana di Indonesia dengan iklim tropis ini? Dari beberapa laporan kasus pasien yang terinfeksi corona, ternyata mereka sebelumnya pernah berada di tempat atau ruangan yang dingin atau ber-AC (air conditioner) dalam waktu yang cukup. Misalnya saat mereka mengadakan pertemuan, pelatihan, dansa, pesta, atau dalam angkutan umum dan bersama orang yang sudah tertular atau bahkan baru sebagai carrier virus corona. Bahkan hanya bertemu seorang tamu saja di ruangan ber-AC sudah terjadi penularan karena sang tamu ternyata positif Covid-19.

Entah gaya hidup entah memang suatu kebutuhan. Saat ini hampir semua gedung perkantoran, tempat kuliah, dan rumah sakit, semua memiliki tempat/ruangan ber-AC. Sarana angkutan masal juga ber-AC, tempat hiburan, tempat pesta, klub malam, mal, dan toko-toko, MRT, LRT, kereta api, Kkapal laut/kapal pesiar, pesawat terbang, mobil pribadi, juga bus, semua rasanya harus ber-AC.

Sangat klop kalau kita lihat para korban covid-19 pada mulanya lebih banyak menerpa pada orang dengan gaya hidup dan menggunakan fasilitas tersebut. Kita semua tahu fasilitas itu cenderung ditemukan di daerah perkotaan.

Oleh karena itu anjuran untuk tidak mudik saat ini adalah tindakan yang tepat dan bijak. Ini untuk melindungi saudara-saudara kita dari kemungkinan transmisi corona dari kota ke desa.

Kondisi itu sangat berbeda dengan keadaan di desa. Saat ini belum ada khabar kasus seorang petani dan orang di pedesaan tertular corona. Seperti diketahui bersama, bahwa fasilitas umum di desa dan rumah mereka lazimnya tidak menggunakan AC. Sangat mungkin ini nantinya merupakan faktor yang menguntungkan yang dapat menurunkan terjadinya penularan virus corona secara masif.

Jadi, menurut hemat penulis,saat musim merebaknya wabah corona ini, perlu dipertimbangkan sedapat mungkin untuk tidak menggunakan AC di rumah atau ruangan. Suhu dalam ruangan ber-AC tentunya menjadi dingin dan kelembababan udaranya kurang.

Kondisi seperti itu merupakan suhu yang cocok bagi virus untuk lebih bisa lama bertahan. Ini lantaran dalam ruangan ber-AC selalu ada aliran udara yang memungkinkan juga terjadinya percikan droplet (penetesen) semakin jauh, tidak segera jatuh dan bahkan menjadi aerosol. Lebih konyolnya, virus corona ini dapat bertahan delapan jam di udara ( menurut Organisasi Kesehatan Dunia/WHO ).

Oleh karena itu sangat bijak dan merupakan langkah yang tepat bila kita semua melakukam gerakan tidak menggunakan AC selama tiga sampai empat bulan ke depan. Dengan mengurangi penggunaan AC diharapkam akan memperkecil kesempatan penularan virus corona. Tentu saja ada manfaat lain dari tindakan itu. Ini dapat melakukan penghematan dalam penggunaan listrik serta mencegah cepatnya penipisan lapisan ozon bumi.

Ini sebuah renungan. Sedapat mungkin hindari berada di ruang ber-AC. Kurangi menggunakan AC dan tundalah mudik untuk tahun ini. Semoga wabah atau pandemo virus corona ini bisa segera sirna. (AS)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Positif Covid-19 di Jatim Mendekati 2.000 Kasus

Sat May 16 , 2020
0 (0) Jakarta – Kasus positif virus corona atau Covid-19 di Provinsi Jawa Timur (Jatim) saat ini mencapai 1.921 orang. Sementara itu, pasien sembuh bertambah 8 orang, sehingga totalnya menjadi 302 orang. Dilansir dari laman infocovid19.jatimprov.go.id, Jumat (15/5), jumlah pasien positif mengalami peningkatan 64 kasus. Sehingga total pasien positif saat […]