Terdepak dari Tiga Besar Ekonomi Dunia, Jepang Resmi Resesi

Jakarta – Masuknya Jepang ke dalam jurang resesi maka Negara maju tersebut pun harus terdepak dari tiga besar ekonomi dunia.

Dikutip dari Reuters, Kamis (15/2), pertumbuhan ekonomi Jepang secara tak terduga mengalami kontraksi atau minus selama dua kuartal berturut-turut. Hal ini karena lemahnya permintaan domestik, sehingga meningkatkan ketidakpastian rencana Bank of Japan (BoJ) untuk melonggarkan kebijakannya pada tahun ini.

Selain itu, beberapa analis mengingatkan akan adanya kontraksi lagi pada kuartal ini karena lemahnya permintaan di China akibat lesunya konsumsi dan terhentinya produksi pada unit Toyota Motor Corp (7203.T).

Kinerja yang sangat lemah ini membuat Jepang kehilangan predikatnya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, digantikan oleh Jerman.

Produk domestik bruto (PDB) Jepang turun 0,4 persen secara tahunan pada periode Oktober-Desember setelah penurunan 3,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Angka ini berbalik arah dibandingkan dengan rata-rata perkiraan pengamat yang naik sebesar 1,4 persen. Kontraksi dua kuartal berturut-turut tersebut juga dinilai dsebagai resesi teknis.

Sementara secara kuartalan, PDB Jepang turun 0,1 persen. Angka ini jauh dari rata-rata perkiraan pasar yang naik 0,3 persen.

Kepala Ekonom Credit Agricole, Takuji Aida, mengatakan data yang lemah ini mungkin menimbulkan keraguan terhadap perkiraan BoJ bahwa kenaikan upah akan mendukung konsumsi, dan membenarkan penghentian stimulus moneter besar-besaran secara bertahap.

“Ada risiko ekonomi akan menyusut lagi pada kuartal Januari-Maret karena melambatnya pertumbuhan global, lemahnya permintaan domestik dan dampak gempa Tahun Baru di Jepang bagian barat,” katanya.

Bank sentral tersebut, lanjut Takuji, kemungkinan terpaksa menurunkan secara tajam perkiraan PDB-nya untuk tahun 2023 dan 2024.

Adapun nilai tukar Yen juga sedikit berubah setelah rilis data tersebut dan terakhir berada di JPY 150,42 per dolar, berada di dekat level terendah selama tiga bulan yang dicapai pada awal minggu.

Sementara itu, Nikkei (.N225) naik 1 persen, kemungkinan karena ekspektasi BOJ akan melanjutkan program pelonggaran besar-besaran lebih lama dari perkiraan.

Konsumsi Domestik Rendah

Konsumsi swasta di Jepang yang mencakup lebih dari separuh aktivitas ekonomi negara tersebut, turun 0,2 persen atau di luar proyeksi ekonom yang naik 0,1 persen.

Belanja modal, mesin pertumbuhan utama sektor swasta lainnya, turun 0,1 persen dibandingkan perkiraan kenaikan 0,3 persen.

Kemudian permintaan eksternal, atau ekspor dikurangi impor, menyumbang 0,2 poin persentase terhadap PDB karena ekspor naik 2,6 persen dari kuartal sebelumnya.

Sumber Reuters menyebut, BOJ akan mengakhiri suku bunga negatif pada April 2024 dan merombak bagian lain dari kerangka moneter terlonggarnya. Hal ini emungkinan akan memperlambat pengetatan kebijakan berikutnya di tengah risiko yang masih ada

Meskipun pejabat BOJ belum memberikan petunjuk kapan tepatnya mereka akan mengakhiri suku bunga negatif, banyak pelaku pasar memperkirakan tindakan seperti itu akan terjadi pada Maret atau April.

Beberapa analis mengatakan pasar tenaga kerja Jepang yang ketat dan rencana belanja perusahaan yang kuat menjaga peluang keluarnya lebih awal dari kebijakan terlonggar tetap ada.

“Meskipun kontraksi PDB yang kedua berturut-turut pada kuartal IV menunjukkan perekonomian Jepang kini berada dalam resesi, survei bisnis dan pasar tenaga kerja memberikan gambaran yang berbeda. Bagaimanapun, pertumbuhan diperkirakan akan tetap lamban tahun ini karena tingkat tabungan rumah tangga telah berubah menjadi negatif ,” kata Kepala Asia-Pasifik di Capital Economics, Marcel Thieliant.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *