Teknologi berbasis e-commerce, Tiktok Dilarang Berjualan

Jakarta – teknologi berbasis e-commerce nampaknya tengah mendapatkan angin segar. Pasalnya, pemerintah Indonesia memberi sinyal melarang TikTok menjalankan bisnis sosial media dan e-commerce berbarengan. Sikap tersebut dilontarkan oleh Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki.

Ia melarang TikTok menjalankan bisnis media sosial dan e-commerce secara bersamaan di Indonesia.

Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan menyebut masih belum ada kepastian terkait dengan larangan tersebut sehingga sifatnya sebatas sentimen belaka.

“Sekarang masih menjadi sentimen belaka, kalau terkait dengan berita mengenai larangan pemerintah,” kata Rizkia kepada Kontan.co.id akhir pekan lalu.

Hingga akhir perdagangan Jumat (8/9), saham PT Bukalapak Tbk (BUKA) parkir di zona hijau di level Rp 246 per saham. Dalam sepekan, BUKA berhasil naik 5,15%.

Saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) alias Blibli juga menguat 0,44% ke level Rp 454. Hanya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang parkir di zona merah di harga Rp 93.

Meski belum ada kepastian secara tertulis, TikTok tetap diperbolehkan menjalankan bisnis e-commerce. Asalkan, perusahaan asal China ini memisahkan platform media sosial dengan e-commerce.

Rizkia menilai kehadiran TikTok Shop berdampak besar terhadap persaingan e-commerce dalam negeri. Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan TikTok Shop berpotensi menjadi pemain kuat.

Dia mencermati TikTok Shop memiliki keunggulan kompetitif dalam eksposur terhadap pengumpulan data di platform sosial media dan screen time yang lebih lama dari calon pembeli.

TikTok Shop masih sedikit berbeda dibandingkan pemain lain, seperti target pelanggan wanita berusia muda, dan kategori produk yang berfokus pada FMCG, kecantikan dan perawatan kulit.

“Saat ini, sebagian besar pembelian yang dilakukan masih bersifat impulsif dibandingkan dengan niat membeli di Tokopedia,” jelas dia.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyebut kehadiran TikTok Shop memang memberikan warna baru bagi pasar e-commerce.

Meski begitu, masing-masing emiten telah pangsa pasarnya sendiri. Secara ekosistem, TikTok Shop masih kalah dibandingkan Bukalapak, Tokopedia dan Blibli.

Baca Juga: Bisnis Gojek Tokopedia (GOTO) Masih Bisa Melaju, Ini Rekomendasi Analis

“Promosi atau bakar uang bagi ekosistem yang besar tidak dibutuhkan, lebih baik masuk ke biaya pengembangan untuk berinovasi dan mendisrupsi pasar,” ucap Nico.

Menurutnya, pengembangan layanan dan produk, kenyamanan dan pengalaman pelanggan akan meningkat sehingga bisa menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan seiringan naiknya transaksi.

Di sisi lain, industri e-commerce sedang dihantui oleh wacana pemerintah yang akan membatasi penjualan produk asing di e-commerce. Namun rencana ini masih digodok.

Research Analyst Maybank Investment Banking Group Estta Rusdina Putra menilai wacana aturan baru mengenai pelayaran penjualan barang impor di e-commerce akan menguntungkan Tokopedia.

“Pelanggan Tokopedia tidak bisa langsung mengimpor dari China. Kami pikir regulasi akan lebih memengaruhi Shopee dan TikTik Shop di Indonesia,” jelas Estta dalam riset tertanggal 31 Juli 2023.

Maybank Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli GOTO dengan target harga Rp 153. Pilarmas Investindo Sekuritas untuk jangka menengah hingga panjang menilai GOTO, BUKA dan BELI masih menarik untuk dicermati.(kontan)

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *