Friday, June 18

Teka Teki Jack Ma, Diduga Dipenjara atau Tewas

Beijing – Jack Ma, miliarder teknologi China, dilaporkan tidak terlihat di depan umum selama hampir 3 bulan setelah melakukan pelanggaran terhadap aturan Presiden Xi Jinping. Sebelum menghilang, salah satu taipan China yang paling sukses itu, blak-blakan mengkritik regulator keuangan “pegadaian” negara komunis itu dan bank-bank milik negara dalam pidatonya di Shanghai pada Oktober.

Terkait hilangnya pendiri Alibaba dan Ant Group ini, sebuah video yang memprediksi “akhir riwayat” sang miliarder itu viral. Di sana disebutkan, Jack Ma akan berakhir di penjara atau mati.

Melansir Newsweek, video tersebut diunggah 11 September 2019 di Twitter. Isinya tentang percakapan antara miliarder China yang diasingkan, Guo Wengui (Miles Kwok), dengan Direktur Investasi Hayman Capital Management, Kyle Bass.

Jack Ma dilaporkan tidak terlihat di publik sejak lebih dari dua bulan lalu, termasuk tidak menghadiri acara final TV show-nya sendiri, Africa’s Business Heroes. Orang terkaya nomor 25 versi Bloomberg’s Billionaires Index ini diduga hilang setelah memberikan kritik terhadap Pemerintah China.

Kritiknya itu dia sampaikan pada Oktober lalu di Shanghai. Jack Ma mengkritik aturan perbankan di China yang dia samakan seperti pegadaian. Untuk itu, Ma menginginkan adanya perubahan atau reformasi.

“Sistem finansial hari ini adalah warisan dari masa industri,” ungkap Ma.

“Kita harus membangun sesuatu yang baru untuk generasi selanjutnya dan generasi muda. Kita harus mereformasi sistem saat ini,”imbuhnya.

Laporan hilangnya Jack Ma dari publik membuat video percakapan antara Miles Kwok dan Direktur Kyle Bass mencuat kembali di Twitter dan telah dibagikan ribuan kali. Di dalam video itu, Jack Ma diprediksi oleh Miles Kwok hanya akan mengalami dua akhir hidup.

“Hanya ada dua cara (akhir) bagi miliarder di China, dia dipenjara atau mati,” ungkap Kwok dikutip dari Real Vision.

Jika memang benar pendiri Alibaba itu menghilang karena kritiknya terhadap pemerintah sehingga menyebabkan dia harus mendekam di penjara atau dibunuh maka prediksi dua tahun lalu itu bisa dibilang benar.

Miles Kwok sendiri, orang yang memprediksi akhir hidup Jack Ma, adalah seorang pebisnis China yang diasingkan dan menjadi aktivis politik. Dia menguasai Beijing Zenith Holdings dan aset lainnya.

Terkenal Vokal

Dilansir dari News 18 pada Senin (4/1/2021), Jack Ma memang termasuk orang yang vokal mengkritik Pemerintah “Negeri Panda”. Dalam sebuah forum di Shanghai pada 24 Oktober 2020, mantan guru bahasa Inggris itu mengkritik bank di China beroperasi layaknya rumah gadai karena harus memberikan jaminan terkait dengan kredit. Sementara itu, regulasi perbankan yang berlaku dinilainya menghambat inovasi dan harus direformasi guna mendorong ekonomi.

Pria berusia 56 tahun itu juga menyerukan reformasi sistem yang menurutnya telah menghambat inovasi bisnis. Dia menyamakan peraturan perbankan global dengan “klub orangtua”. Jika benar kritik itu memicu hilangnya Jack Ma, maka akan memperuncing hubungannya dengan China yang dulu akrab tapi belakangan menegang.

Teman Jadi Lawan

Menurut pemberitaan BBC pada 27 November 2018, pria bernama asli Ma Yun ini termasuk anggota Partai Komunis China (PKC). Jack Ma tergolong gigih membela kebijakan bisnis Xi Jinping dengan perusahaan asing, termasuk Amerika Serikat, yang mengeluhkan sulitnya akses ke pasar China.

Dalam sebuah kesempatan dia berkata, “Kalau mereka datang ke sini, mereka harus bilang OK, saya mengikuti aturan dan hukum China.” Jack Ma tidak main-main. Dia bahkan berani menantang perusahaan besar seperti Facebook jika memang ingin membuka kantor di “Negeri Panda”.

Perekonomian China pun turut dibantunya dengan Alibaba, dan bersedia membagikan data pelanggan jika pihak berwenang menelepon. Lagi-lagi, Jack Ma memegang teguh prinsip “aturan dan hukum China”.

Saat itu suami Cathy Zhang tersebut merasa yakin prinsip China akan membawa perekonomian nasional tumbuh, sambil memastikan 100 lebih entitas raksasa yang dikelola negara tetap berada dalam kendali pemerintah dan PKC. Meski bosnya adalah anggota PKC, Alibaba mengklaim Jack Ma tidak pernah menempatkan kepentingan partai di atas perusahaan, atau para pemegang saham.

Di China, Jack Ma adalah simbol kesuksesan, sampai ia dipanggil Daddy Ma oleh warganet. Namun diwartakan New York Times pada 24 Desember 2020, belakangan ini sentimen kepada Daddy Ma memburuk.

Dia bahkan disebut penjahat, kapitalis jahat, dan hantu pengisap darah. Aura permusuhan ini diawali konflik Jack Ma dengan Pemerintah China. Pejabat China hari itu mengatakan, mereka sedang meluncurkan investigasi anti-monopoli terhadap Alibaba.

Pada saat bersamaan, para pejabat Pemerintah China juga terus mengawasi Ant Group, raksasa fintech yang dikembangkan Alibaba. November 2020 pihak berwenang membatalkan penjualan saham besar-besaran ke publik yang direncanakan Ant. Itu terjadi tak sampai dua minggu setelah Jack Ma secara terbuka mengkritik bank-bank China berperilaku seperti pegadaian, dengan meminjamkan dana hanya ke orang-orang yang bisa memberi jaminan.

Hari itu juga empat badan pengawas mengatakan, para pejabat akan bertemu dengan Ant untuk membahas langkah-langkah pengawasan baru. Sementara itu di masyarakat, kesenjangan ekonomi rakyat China kian lebar. Meski “Negeri Panda” memiliki lebih banyak miliarder dibandingkan Amerika Serikat dan India, sekitar 600 juta penduduknya hanya berpenghasilan Rp 2 juta sebulan bahkan kurang. Xin/oma/kon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *