Surati Terawan, IDI: Vaksinasi Covid-19 Jangan Tergesa-gesa

0
(0)


Jakarta: Indonesia saat ini sedang berfokus permasalahan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Mengenai proses vaksinasi Covid-19, PB IDI meminta Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto untuk tidak tergesa-gesa. Hal tersebut disampaikan IDI dalam sebuah surat yang ditandatangani Ketua Umum PB IDI, dr Daeng M Faqih.

Dalam surat yang disampaikan humas PB IDI Halik Malik dan diunggah akun Twitter IDI, Kamis (22/10/2020), IDI menyebut ada syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam pemilihan vaksin. Apalagi tenaga kesehatan menjadi kelompok yang akan disuntik pertama pada November mendatang.

“Perlu diadakan persiapan yang baik dalam hal pemilihan jenis vaksin yang akan disediakan serta persiapan terkait pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden agar program vaksinasi ini jangan dilakukan dan dimulai dengan tergesa-gesa,” tulis IDI dalam surat tertanggal 21 Oktober 2020, yang dikutip RRI pada Kamis (22/10/2020).

BPOM sendiri juga telah menyebutkan, syarat mutlak vaksin sebelum diberikan ke masyarakat, yakni efektivitas, imunogenitas, serta keamanannya. Syarat itu harus dibuktikan dengan hasil yang baik melalui uji klinik fase III yang dipublikasikan.

Saat ini uji klinis III salah satu kandidat vaksin yakni Sinovac masih diuji klinis di sejumlah negara, yakni Brasil, Bangladesh, Chile, dan Indonesia. Sementara uji klinis III di Indonesia baru dimulai Agustus. Dan diproyeksikan selesai Januari 2021.

“Dari data yang ada, saat ini uji coba vaksinasi Sinovac di Brasil sudah selesai dilaksanakan pada 9.000 relawan. Namun hasilnya baru akan dikeluarkan segera setelah selesai dilakukan vaksinasi pada 15.000 relawan,” ungkap IDI.

Selain itu, IDI juga menyebutkan, dalam situasi pandemi saat ini WHO memang memperkenankan pembuatan dan penyediaan obat atau vaksin dapat dilakukan melalui proses Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin COVID-19 kepada lembaga yang memiliki otoritas. Di Indonesia, ada BPOM.

“Dalam menentukan atau menentukan hal ini, PB IDI amat meyakini bahwa BPOM tentu juga akan memperhatikan keamanan, efektivitas, dan imunogenitas suatu vaksin, termasuk bila terpaksa menggunakan skema EUA. Kami yakin bahwa BPOM akan menjaga kemandirian dan profesionalismenya,” tulis IDI.

Menurut IDI, dalam program vaksinasi, perlu juga memperhatikan rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Strategic Advisory Group of Experts on Immunization of The World Health Organization (SAGE WHO). IDI sekali lagi menekankan program vaksinasi memerlukan persiapan yang baik.

“Pelaksanaan program vaksinasi memerlukan persiapan yang baik dan komprehensif, termasuk penyusunan pedoman-pedoman terkait vaksinasi oleh perhimpunan profesi, pelatihan petugas vaksin, sosialisasi bagi seluruh masyarakat, dan membangun jejaring untuk penanganan efek samping imunisasi,” tegas IDI.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Rumah Duka Yulia Ternyata Posko Pemenangan Jokowi

Fri Oct 23 , 2020
0 (0) Jakarta: Prosesi pemakaman jenazah Yulia yang terbakar dalam mobil Daihatsu Xenia berpelat nomor AD 1526 EA di lakukan di wilayah Baluwarti, tepatnya wilayah Gambuhan, Baluwarti. Ternyata, lokasi pemakaman Yulia di rumah keluarga suaminya di Baluwarti merupakan Posko Pemenangan PDIP sejak Jokowi maju Pemilihan Presiden 2014. Tidak hanya itu, […]