Suhu Perkotaan, BMKG Sebut Aktivitas Manusia Picu Peningkatan

Jakarta – Meskipun sering muncul isu tentang gelombang panas yang melanda Indonesia, fakta ilmiah menunjukkan Indonesia belum mengalami situasi tersebut. Meski demikian, terjadi peningkatan suhu signifikan terutama di daerah perkotaan seperti Urban Heat Island.

Fenomena Urban Heat Island (UHI) merupakan adalah fenomena alam khususnya berkaitan dengan iklim. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu kawasan pusat perkotaan padat.

Dalam sebuah diskusi terbaru, dibahas mengenai perubahan iklim dan kenaikan suhu di Indonesia. Meskipun gelombang panas belum menjadi peristiwa umum, penting untuk mengakui bahwa suhu terus meningkat, terutama daerah padat penduduk.

“Urban Heat Island, bahwa fenomena ini memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas antropologi di daerah perkotaan. UHI merujuk pada peningkatan suhu yang signifikan di daerah perkotaan dibandingkan dengan sekitarnya yang lebih pedesaan,” kata Ahli Muda Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Anggi Dewita dalam bincang bersama Pro3 RRI, Jumat (15/3/2024).

Anggi menyebut, dalam diskusi tersebut ditekankan, pemahaman lebih baik tentang UHI penting untuk mengembangkan strategi mitigasi yang efektif. perlunya langkah-langkah proaktif untuk mengurangi efek dari fenomena ini demi keseimbangan lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat perkotaan.

Fenomena di mana suhu di perkotaan jauh lebih tinggi daripada di daerah sekitarnya, merupakan hasil langsung dari aktivitas manusia. Sekitar 80% hingga 90% dari pengaruh tersebut disebabkan oleh kegiatan manusia seperti perubahan lahan menjadi aspal atau bangunan.

“Perubahan alam yang terjadi, seperti penutupan lahan dengan aspal atau bangunan, salah satu pemicu utama naiknya suhu diperkotaan. Ini berkontribusi pada kenaikan suhu yang dapat berdampak pada kesehatan dan produktivitas masyarakat,” kata Anggi Dewita.

Dampak dari UHI sangat terasa, terutama bagi para pekerja lapangan seperti konstruksi dan survei. Selain itu, penggunaan AC dan kipas untuk mengatasi panas juga meningkatkan konsumsi energi, dapat melepaskan banyak gas rumah kaca.

“Kita harus mencari keseimbangan antara lingkungan, ekonomi, dan sosial. Misalnya, mempertimbangkan pembangunan green infrastructure meskipun hal itu bisa mengganggu aktivitas ekonomi,” ujar Anggi.

Berbagai upaya mitigasi juga diperlukan untuk mengatasi dampak UHI, seperti membangun green infrastructure, memperbaiki tata ruang kota. Dengan kesadaran dan tindakan kolektif, diharapkan masyarakat dapat berkontribusi dalam mengurangi dampak UHI dan menjaga keseimbangan lingkungan perkotaan.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *