Friday, May 7

Setelah Direvisi, Korban Jiwa Corona di Wuhan Melonjak Hampir 50 Persen

Wuhan – Keraguan banyak pihak atas ketidakjujuran Cina dalam mengumumkan kasus virus corona mulai menemukan jawaban. Pemerintah Cina melakukan revisi atas data kasus dan kematian akibat virus yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, tersebut.

Media-media di Cina, termasuk stasiun televisi milik negara (CCTV), juga memberitakan revisi jumlah kasus virus corona (Covid-19). Cina berpandangan, revisi itu terjdi karena kelambatan, kesalahan pelaporan, dan kelalaian.

Setelah direvisi, ada penambahan korban jiwa dalam jumlah besar di Wuhan. Jika semula total jumlah korban akibat infeksi corona di Cina sebanyak 2.579 orang, setelah direvisi menjadi 3.869 jiwa. Ini berarti ada penambahan sebanyak 1.290 orang atau hampir 50 persen.

Beberapa kantor berita asing -termasuk Reuters, Xinhua, AFP, dan Hongkong Free Press– pada Jumat (17/4) lalu kabarnya juga membuat laporan revisi tersebut. Dengan demikian di Wuhan, kota dengan 11 juta penduduk, sesuai hasil revisi tercatat ada 50.333 kasus positif corona. Ini sekitar 60 persen dari jumlah semua kasus di daratan Cina.

Data terakhir mnyebutkan, saat ini seluruhnya ada 82.367 kasus corona di Cina. Belum ada laporan tambahan jumlah kematian, selai data dari Wuhan tersebut.

Ketidakterbukaan Cina juga diungkap oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. “Anda percaya dengan angka-angka di negara yang begitu luas seperti Cina? Dengan kasus dan kematian hanya sejumlah itu?” papar Trump.

Walau mendapat kecaman dari pelbagai pihak di luar negeri, Cina membantah tudingan bahwa negaranya sengaja menutup-nutupi kasus wabah corona. Juru bicara pemerintah Cina, Zhao Lijian, menampik tudingan itu. “Kami tidak menutup-nutupi, itu memang revisi,” kilahnya.

Ada beberada alasan yang diutarakan Cina (lewat Markas Besar Pencegahan dan Pengendalian Covid-19) mengenai revisi ini. Pertama adalah banyaknya pasien yang meninggal di rumah sehingga belum sempat terdata. Lalu lantaran para tenaga medis sibuk menangani pasien, maka pelaporan data menjadi tertunda.

Selain itu, Beberapa institusi medis yang tak terkait langsung dengan jaringan informasi wabah corona tidak bisa membuat laporan secara cepat. Kemudian, adanya ketidaklengkapan dan kekeliruan informasi yang dilaporkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *