Sekitar 900.000 Petugas Kesehatan Masyarakat Din India Lakukan Protes.

0
(0)

New Delhi – India mencapai tonggak sejarah suram dalam pandemi virus corona dengan mengonfirmasi 2 juta lebih kasus infeksi, dan lebih dari 41.000 kematian, pada Jumat (7/8).

Di saat bersamaan, masalah lain yang juga harus dihadapi India adalah aksi mogok kerja dari para sukarelawan kesehatan masyarakat. Mereka mengeluh karena tidak diperlengkapi secara maksimal untuk menanggapi gelombang infeksi di daerah pedesaan.

Meskipun India mempertahankan angka kematian yang relatif rendah, lintasan penyakit sangat bervariasi di seluruh negeri, dengan beban berpindah dari kota dengan sistem kesehatan yang relatif kuat ke daerah pedesaan, di mana sumber daya tidak memadai.

Dilansir Arab News, Kementerian Kesehatan melaporkan 62.538 kasus dalam 24 jam terakhir, meningkatkan total infeksi negara menjadi 2.027.074. Selain itu, 886 tambahan kematian baru, menjadikan total 41.585 kematian di negara itu.

India memiliki beban kasus tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Brasil. Sedangkan untuk angka kematian, negara ini berada di urutan terbanyak kelima. Tingkat fatalitasnya Covid-19 India sekitar 2 persen, jauh lebih rendah daripada dua negara yang paling terpukul, yakni AS dengan 3,3 persen, dan Brasil 3,4 persen.

Beban kasus di negara terpadat kedua di dunia ini dengan cepat meluas sejak pemerintah mulai mencabut penguncian selama berbulan-bulan dengan harapan dapat menghidupkan kembali sektor ekonomi yang hampir mati. India memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negatif pada 2020.

Kehidupan kembali dengan hati-hati di jalanan ibu kota New Delhi dan pusat keuangan Mumbai, yang tampaknya sudah melewati puncaknya. Tetapi pemerintah negara bagian dan lokal di tempat lain di India memberlakukan kembali penguncian setelah lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, sekitar 900.000 petugas kesehatan masyarakat yang semuanya perempuan memulai pemogokan dua hari pada Jumat (7/8). Mereka memprotes bahwa mereka harus membantu pelacakan kontak, menjaga kebersihan pribadi dan di pusat karantina, tetapi tidak diberi alat pelindung diri atau honor yang memadai.

Petugas kesehatan, yang dikenal dengan Akreditasi Aktivis Kesehatan Sosial, atau ASHA, yang berarti harapan dalam bahasa India, dikerahkan di setiap desa atas nama Kementerian Kesehatan. Pekerjaan mereka berkisar pada mendampingi anak-anak hingga klinik imunisasi dan konseling wanita tentang persalinan.

Namun, meski pekerjaan rutin mereka tidak berkurang, mereka semakin banyak dilibatkan oleh pemerintah negara bagian dalam memerangi pandemi. “Pekerja ASHA tidak memiliki masker atau APD atau bahkan pembersih,” kata koordinator aksi mogok kerja, AR Sindhu.

Dia menambahkan bahwa meskipun pekerjaan meningkat dan menjadi lebih berbahaya, gaji mereka tetap statis sekitar 2.000 rupee atau sekitar Rp378.000 per bulan. Dan keluarga dari setidaknya selusin pekerja yang meninggal karena virus corona, tidak menerima kompensasi dari asuransi pemerintah, karena kematian mereka tidak dicatat sebagai kematian akibat Covid-19. (Aza)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Di Tengah Pandemi Covid -19, Royal Xifu Brand Minum Kekinian Kembali Buka Outlet Ke 16

Sat Aug 8 , 2020
Post Views: 0 0 (0) HarianNasional.Com, Jakarta – Dunia saat ini sedang digemparkan dengan merebaknya virus corona yang telah menjadi pandemi global. Dampak negatif penyebaran virus corona tak hanya dirasakan oleh masyarakat saja, tetapi juga dunia usaha baik skala kecil, menengah, maupun besar. Namun Hal ini menjadi sebuah tantangan baru […]