by

Resmi Jadi Cabor Asian Games 2022, Simak Sejarah Esports

Jakarta -Setelah berkiprah sebagai cabang olahraga eksibisi di Asian Games 2018, esports akhirnya resmi menjadi cabang olahraga (cabor) pada Asian Games 2022 mendatang.

Masuknya eSports sebagai cabor Asian Games 2022 disambut gembira oleh Federasi Olahraga Elektronik Asia (Asian Electronic Sports Federation – AESF) yang beranggotakan 45 negara dan wilayah. AESF percaya kemitraan dengan Dewan Olimpiade Asia dapat membuka jalan bagi masa depan esports di Asia dan dunia.

Dikutip dari the AESF quarterly newsletter, Presiden AESF Kenneth Fok mengatakan, masuknya esport dalam dua acara OCA pada 2022 akan berfungsi sebagai katalis untuk pengembangan besar. Dua event yang dimaksud adalah Asian Indoor and Martial Arts Games (AIMAG) yang akan berlangsung di Bangkok dan Provinsi Chonburi pada Maret 2022, serta Asian Games ke-19 di Hangzhou, China pada September 2022.

Kenneth berharap Asian Games menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana esports dapat menjadi bagian dari acara Olimpiade dan berkontribusi pada program Olimpiade. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan untuk mendorong esports ke level baru yang sejajar dengan olahraga tradisional global lainnya, seperti sepak bola dan bola basket.

“Kami akan bekerja sangat erat dengan OCA, Komite Penyelenggara Lokal, Komite Olimpiade Nasional, asosiasi anggota yang berpartisipasi, dan penerbit judul game terpilih dengan tujuan tunggal menjadikan pengalungan acara medali perdana esports di Asian Games benar-benar berkesan dan bersejarah,” jelas Fok.

Asian Games ke-19 rencananya berlangsung dari 10-25 September 2022 di Hangzhou – ibu kota provinsi Zhejiang di China timur – dan lima kota lainnya. Asian Games akan mempertandingkan 40 cabor dan 482 nomor pertandingan.

Esport sendiri terdiri atas delapan kategori yaitu Arena of Valor Asian Games Version, DOTA 2, Dream Three Kingdoms 2, EA SPORTS FIFA branded soccer games. Lalu HearthStone, League of Legends, PUBG Mobile Asian Games Version, dan Street Fighter V.

Berawal dari Stanford

Esports saat ini jadi fenomena yang menggiurkan secara bisnis. Investor dan pelaku bisnis berlomba-lomba menjajaki industri ini. Di sisi lain, ada pula fenomena baru gamers juga berlomba menjadi yang terhebat demi mendapat hadiah ratusan juta dolar.

Beberapa dekade lalu, alih-alih mendapat uang, orangtua bakal memarahi anak yang menghabiskan waktu untuk bermain game. Saat Counter-Strike populer dan dijadikan kompetisi di awal tahun 2000-an saja, belum ada karier untuk bermain game. Istilah esports pun masih jarang terdengar.

Padahal kalau dirunut, perlombaan di video game sudah ada sejak era 1970-an. Pada Oktober 1972 silam, mahasiswa Universitas Stanford menggelar kompetisi video game pertama dengan bertanding Spacewar untuk memperebutkan hadiah 1 tahun langganan gratis majalah Rolling Stone. Seru kan?

Spacewar adalah game yang diciptakan Steve Russel dan lima koleganya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 1962.

Pada 1980 diselenggarakan turnamen Space Invanders Atari. Ini adalah kompetisi video game terbesar di zamannya karena diikuti oleh 10 ribu peserta dan diorganisir sangat rapi.

Perkembangan esport kian pesat di dekade 1990-an. Saat itu industri komputer yang mulai berkembang dengan game-game yang sudah mulai maju karena dibantu oleh perkembangan internet. Perusahaan besar seperti Nintendo dan Blockbuster mensponsori kejuaraan dunia video game yang biasa mempertandingkan game bergenre sports, racing, dan combat.

Jika sebelumnya game hanya dimainkan di mesin arcade yang kita kenal sebagai mesin ‘ding-dong’, di era 1990-an permainan konsol yang lebih kompetitif muncul dan berkembang. Misalnya Super Street Fighter II dan Doom yang menjadi ikon game dekade itu.

Momen penting ajang esports pertama terjadi pada 1997 di turnamen Quake. Di turnamen yang berhadiah mobil Ferrari bekas dan diikuti lebih dari 2.000 peserta, game yang banyak dipertandingkan kala itu adalah FPS.

World Cyber Games dan Electronic Sports World Cup muncul pada awal 2000-an membawa perubahan langkah besar bagi esports. Pada 2002 muncul Major League Gaming (MLG) yang hingga saat ini masih menjadi liga esports.

Masuk dari Korsel

Korea Selatan (Korsel) juga tercatat sebagai cikal bakal fenomena global berkembangnya esports modern. Mengapa? Karena di saat sejumlah negara di Asia terkena krisis finansial, Korsel fokus mengembangkan infrastruktur telekomunikasi dan internet. Kecepatan internet yang luar biasa menyebabkan warung internet (warnet) dan game center berkembang pesat.

Di negeri gingseng inilah turnamen esports disiarkan pertama kali di stasiun televisi. Game RTS yaitu StarCraft: Blood War menjadi game paling populer untuk dipertandingkan. Pemerintah Korsel juga mendirikan Korea E-Sports Association (KeSPA) pada 2000 yang semakin mendorong perkembangan esports di sana.

Bukti dari pesatnya perkembangan esports, penonton MLG Spring Tournament pada 2012 mencapai 4 juta. Jumlah itu mengalahkan penonton NBA All-Stars Game di tahun yang sama. Selain itu, game Dota 2 juga berhasil menarik puluhan juta penonton dari seluruh dunia.

Pada tahun yang sama, Valve mengadakan The International. Ini turnamen tingkat dunia pertama bagi Dota 2 versi standalone dari custom-game Warcraft terpopuler, Defense of the Ancient.

The International menjadi fenomena besar dunia esports. Total hadiahnya yang mencapai 10,9 juta dolar AS (sekitar Rp154 miliar) mencetak rekor sebagai turnamen game dengan hadiah terbesar di 2013.

Selanjutnya, sejumlah kompetisi bertaraf nasional hingga internasional pun banyak bermunculan, termasuk di Indonesia. Di Indonesia pada 2001, terbentuk komunitas Liga Game. Komunitas ini berawal dari obrolan di MiRC.

Indonesia sendiri menjadi tempat bersejarah bagi esport dunia. Sebabnya, esports resmi menjadi cabor ekshibisi di Asian Games 2018 yang digelar Jakarta – Palembang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *