PETISI SMAN 65 Siswa dan Guru Resah, Tuntut Kepsek Mundur

Jajarya – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN 65) Jakarta di Jalan Panjang Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat sedang bergejolak lantaran sikap dan cara kepemimpinan Kepala Sekolah (Kepsek) yang cenderung otoriter, kurang etika.

Keresahan tak hanya diraskan siswa, namun para guru, orang tua. Sikap, kebijakan Kepsek disinyalir menjadi penyebab keresahan, ketidakharmonisan sebagaimana tertuang dalam Petisi SMAN 65 menuntut Kepsek mundur. Petisi ini diinisiasi para guru dan siswa yang telah lama merasakan kepemimpinan Kepsek yang acap kali kontroversial. Sejalan semakin menguatnya tuntutan, petisi memdapat dukungan dari orang tua siswa juga alumni.

FR (15) salah seorang siswa kelas XI SMAN 65 mengaku geram dengan Kepala Sekolah SMAN 65 yang selalu bikin gaduh sehingga mengganggu proses belajar mengajar tidak nyaman dan tidak mendukung kemajuan siswa SMAN 65.

“Pernyataan-pernyataannya sering tidak mencerminkan seorang guru atau pendidik. Pak Kepsek malah sering tidak mendukung kegiatan siswa di OSIS tanpa alasan yang jelas. Ini tentu saja menghambat pengembangan diri dan kreativitas Kami, ” tegasnya.

“Masa iya, mau minta persetujuan kegiatan harus gontok-gontokan baru disetujui. Itu pun sering mepet dengan pelaksanaan kegiatan,” keluhnya.

Baca Juga : Tangggapan DPRD DKI Jakarta Terkait Petisi Minta Kepsek SMA Negeri 65 Diganti

Siswi Kelas XI, SF juga mengeluhkan sikap diskriminatif Kepsek pada siswa dan siswi. Ia menceritakan sikap over reaktif dan diskriminiatifnya, ketika ada siswa yang dikeluarkan karena mengambil sandal dan yang kehilangan anak pejabat.

Baca Juga : Sempat Meresahkan Guru dan Orang Tua Murid, Pemprov DKI Nonaktifkan Kepsek SMAN 65
“Sewaktu pengambilan rapot, hanya karena anak pejabat, wali kelas diinstruksikan ‘harus’ menghadap dan memberikannya di ruang khusus, sedang orang tua yang lain menunggu, itu kan diskriminatif antar siswa dan orangtua,” ucapnya dengan kesal.

“Belum lagi bahasa tak pantas, maaf ya, cabul disampaikan Pak Kepasek. Anak-anak, guru-guru juga tahu itu,” imbuhnya.

Bukan hanya siswa, para guru tenaga pengajar di SMAN 65 juga menyayangkan sikap Kepsek yang arogan dan sering mengancam.

AR (46), salah satu guru SMAN 65 mengaku kerap mendengar ancaman Kepsek kepada guru lain terkait penilaian kondite guru. Ia menceritakan, kata-kata “tanda tangan saya masih berguna”. Ini kerap ditujukan bagi keberlangsungan kepada pegawai HONORER/KKI/PPPK/SKP PNS dll.

“Sering sekali Kami mendengar nada ancaman, seperti akan dilakukan BAP kalo guru begini-begitu sehingga mental guru jadi down,” katanya.

“Beliau selalu menutup hak jawab atau klarifikasi atas suatu hal. Merasa paling benar,” tambahnya.

Keluhan siswa dan Guru di SMAN 65 mendapat dukungan dari orang tua siswa dan para alumni dari berbagai angkatan . Para orang tua siswa dan komite sekolah dalam forum komunikasi bersama SMAN 65.

Salah satu anggota Forum Komunikasi SMAN 65, Nugroho mengungkapkan, pihaknya terpanggil untuk membantu mencari solusi atas situasi yang terjadi di SMAN 65 saat ini agar suasana kondusif, harmonis kembali tercipta SMAN 65.

“Upaya perbaikan demi kemajuan SMAN 65 tentu Kami dukung. Kami dukung upaya itu termasuk Forum akan menyampaikan situasi dan Petisi ini kepada PJ Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono dan Komisi E Anggota DPRD DKI Jakarta sebagai wakil Kami di DPRD,” ujar Nugroho .

“Keadaan saat ini tidak bisa didiamkan. Kalau dibiarkan dan lambat penyelesaiannya suasana belajar mengajar tidak kondusif terus berlangsung dan mengganggu krnyamanan di sekolah,” tegas.

Pihaknya juga akan mendesak Dinas Pendidikan DKI untuk segera mencari pengganti Kepala Sekolah yang baru yang bisa mengayomi kegiatan belajar mengajar di SMAN 65 tersebut.

“Akar permasalahannya sudah jelas. Kami imbau Kasudin Pendidikan Jakbar mengambil keputusan yang cepat. Kadis Pendidikan DKI Jakarta dan Jajaran harus tegas untuk menyelamatkan dunia pendidikan Kita. Mau dibawa kemana sekolah dan anak-anak Kita jika terus dipimpin Kepala Sekolah yang tidak cakap memimpin, dan integritasnya dipertanyakan,” tegasnya.

Nugroho juga menambahkan jika diperlukan akan mengajak semua alumni dari berbagai angkatan bergabung dengan orangtua siswa, guru dan siswa bersatu padu turun bareng di halaman Sekolah SMAN 65 Jakarta untuk menyuarakan tuntutan ini.

Senada dengan Orangtua siswa SMAN 65, Eviyanti mengaku mendukung, para siswa dan guru SMAN 65 dan akan memberikan yang terbaik untuk perubahan yang lebih baik.

“Kalau kepala sekolah ga diganti, Saya mendukung jika guru dan siswa untuk demo ke Balaikota DKI Jakarta,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 65 Jakarta, Indramodjo saat dikonfirmasi wartawan mengaku belum mengetahui adanya petisi SMAN 65.

“Justru saya belum dapat petisinya, belum lihat itu. Sekarang baik- baik saja,” kilahnya.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *