by

Pelaku UMKM Terdampak Akibat Harga LPG Non Subsidi Naik

Madiun: Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) Madiun menyayangkan kenaikan harga LPG non subsidi ukuran 5 Kg dan 12 Kg. Kenaikan ini mempunyai dampak bagi pelaku UMKM.

Ketua Hipmikindo Madiun Wisang Ratri Wijaya menegaskan kenaikan tabung gas LPG menjadi tantangan berat bagi pelaku UMKM terutama mereka yang bergerak di bidang kuliner.

“Iya ini memang sangat disayangkan, ketika mulai ada perbaikan saat PPKM sudah mau selesai ternyata ini teman-teman harus memutar otak lagi kaitanya dengan kenaikan harga-harga. Mungkin tidak hanya LPG saja saat ini karena minyak goreng, telur ini harganya meningkat sangat tinggi,” kata Wisang, Selasa (28/12/2021).

Apalagi kenaikan terjadi di tengah naiknya sejumlah komoditas pangan seperti minyak goreng dan cabai rawit. Para pelaku UMKM pun harus memutar otak dengan menekan cost atau biaya produksi karena tidak mungkin membebankan kenaikan kepada konsumen

“Temen-temen pengusaha mikro khususnya kuliner ini sangat berat karena ketika kita harus menyiasati dengan menaikkan harga pelanggan atau customer keberatan,” papar Wisang.

Sebagaimana diketahui Pertamina resmi menaikkan harga gas elpiji sejumlah ukuran sejak Sabtu (25/12/2021). Besaran penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang porsi konsumsi nasionalnya sebesar 7,5 persen berkisar antara Rp 1.600 – Rp 2.600 per kilogram.

Pertamina beralasan perbedaan kenaikan harga ini dilakukan untuk mendukung penyeragaman harga gas elpiji ke depan, serta menciptakan fairness harga antar-daerah. Seperti diketahui, elpiji nonsubsidi terdiri dari dua jenis ukuran tabung, yaitu 5,5 kg dan 12 kg.

Kenaikan juga dipicu peningkatan harga Contract Price Aramco (CPA) LPG yang terus meningkat sepanjang tahun 2021. Pada November 2021, harga CPA mencapai 857 dollar AS per metrik ton, tertinggi sejak 2014 atau meningkat 57 persen sejak Januari 2021. Harga CPA November 2021 tercatat 74 persen lebih tinggi dibandingkan penyesuaian harga 4 tahun yang lalu.

Namun hal itu, kata Wisang, tidak boleh menjadi alasan menaikkan LPG apalagi dengan membandingkan dengan negara lain yang harganya lebih tinggi seperti Vietnam sekitar Rp 23.000 per kilogram, Filipina sekitar Rp 26.000 per kilogram, dan Singapura sekitar Rp 31.000 per kilogram.

Karena menurut Wisang, masih ada yang lebih rendah daripada Indonesia yakni Malaysia dan Thailand karena subsidi dari pemerintah masing-masing. Hingga 3 November 2021 harga LPG non-Subsidi Indonesia adalah Rp 11.500 per kilogram dan saat ini mengalami kenaikan harga sebesar Rp 1.600 – Rp 2.600 per kilogram.

“Ya tentu kami sangat menyayangkan kenaikan LPG ini meski non-subsidi, karena kita banyak menggunakannya. Apalagi seperti kita tahu undang-undang 1945 pasal 33 disebutkan bahwa harusnya kekayaan bumi dan semua isinya ini kan untuk kemakmuran rakyat, seharusnya LPG jangan dinaikkan dulu,” tandasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *