Pasien Pasca Transplantasi Ginjal, KPCDI Kecam RSCM terkait Kelangkaan Obat

Jakarta – Hasil penelusuruan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menemukan banyaknya obat-obatan yang rutin kosong untuk pasien pasca-transplantasi ginjal.

Ketua Umum KPCDI Tony Richard Samosir mengecam keras situasi berkelanjutan kelangkaan obat di RSCM yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Karena itu, KPCDI meminta pihak RSCM terbuka menjelaskan kepada publik, khususnya pasien.

Sebab, menurutnya, hal ini dapat menimbulkan ancaman serius terhadap pasien transplantasi dan berpotensi merusak kualitas hidup yang mereka harapkan pasca operasi.

“Untuk itu, kami mendesak Komisi IX DPR RI untuk secara proaktif memanggil Direktur Utama RSCM dan Menteri Kesehatan untuk menanggapi isu kritis obat ini dalam RDPU serta rapat kerja. Kami juga akan melaporkan persoalan ini secara paralel kepada Ombudsman,” kata Tony dalam keterangannya, Sabtu, 27 April 2024.

Adapun hasil penelusuran KPCDI, obat yang rutin kosong adalah jenis Sandimmun, Certican, dan Myfortic. Obat tersebut merupakan obat utama bagi pasien transplantasi organ—yang jika tidak dikonsumsi maka risiko terbesarnya adalah ginjal donor akan mengalami rijeksi atau penolakan.

Menurut Tony, ketiadaan obat imunosupresan bagi pasien transplantasi organ merupakan kondisi kritis yang dapat mengancam jiwa bagi pasien. Penundaan dosis obat bisa langsung berujung pada penolakan organ yang fatal. Kami menduga adanya kelalaian berlarut dari RSCM yang mempertaruhkan nyawa pasien tanpa solusi konkret.

KPCDI telah menghubungi Kementerian Kesehatan, Direktur Utama RSCM dan BPJS Kesehatan melalui pesan singkat untuk mendesak penyelesaian masalah kelangkaan obat ini. Namun hingga saat ini belum ada kabar baik dari pihak terkait.

Lebih lanjut, KPCDI menuntut bahwa tidak ada lagi pembiaran kelangkaan obat untuk peserta BPJS Kesehatan. Karena kelalaian ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi pasien dan mempertaruhkan nyawa mereka. Tidak adanya obat ini adalah situasi yang tak dapat diterima dan harus segera diatasi untuk melindungi pasien.

Hal ini sejalan dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan di mana mengamanatkan setiap orang berhak atas kesehatan yang setinggi-tingginya, hidup sejahtera, lahir dan batin, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu.

Salah seorang pasien di RSCM, Achwan (50 tahun) menjelaskan, kelangkaan obat ini sudah beberapa bulan terjadi di mana pasien yang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan selalu terlambat mendapatkan obat. Bukannya membaik, pada April 2024, pasien sama sekali tidak mendapatkan obat.

“Bulan ini saya belum ada kabar sama sekali dari farmasi Kanigara RSCM untuk mengambil obat,” kata Achwan.

Akibat kelangkaan obat, kini para pasien mencari jalan ke luar masing-masing. Alih-alih tidak mengkonsumsi obat, para pasien di RSCM saling mencari pinjaman obat kepada sesama pasien pasca-transplantasi.

“Saya harus pinjam ke rekan sesama pasien transplan maupun beli dengan biaya cukup mahal sehingga sangat memberatkan saya. Saya berharap kelangkaan obat segera diatasi agar pasien tidak mengalami kecemasan secara psikologis,” ujarnya.

Senada, Salsa (27 tahun), mengatakan kini banyak pasien yang enggan meminjamkan obatnya karena stok untuk diri sendiri pun kian menipis dan takut obat selanjutnya tidak diberikan. Untuk mengakalinya, ia berusaha membeli obat secara mandiri dengan pengurangan dosis agar harganya lebih murah.

“Saya belum pernah stop minum obat, nggak berani karena ini obat imunosupresan untuk mempertahankan ginjal baru kita nggak diserang sama imun tubuh. Jadi jelas kalau nggak minum obat ini ginjal baru akan diserang dan fungsi ginjal baru pun turun,” kata Salsa.

SinPo.id sudah mencoba menghubungi pihak RSCM untuk mendapatkan konfirmasi atau jawaban terkait hal ini. Namun, RSCM belum merespons hingga berita ini diturunkan.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *