by

Misterius, Ada Orang-orang yang Kebal Virus COVID-19

Douglas: Sebuah tim ilmuwan medis internasional telah menerbitkan artikel Perspective dalam jurnal Nature Immunology, yang menguraikan penelitian yang sedang berlangsung tentang mengapa ada sejumlah orang yang kebal terhadap infeksi SARS-CoV-2.

Dalam makalah mereka, mereka mencatat bahwa saat ini sangat sedikit yang diketahui tentang mengapa beberapa individu kebal terhadap COVID-19, tetapi mereka menyarankan bahwa upaya yang lebih kuat untuk mengetahuinya dapat mengarah pada cara baru mengobati atau mencegah penyakit ini.

Para penulis mencatat bahwa pandemi telah berfungsi menjadi pengingat komunitas global tentang variabilitas luar biasa dalam merespons kemampuan virus ini — beberapa orang tidak menunjukkan gejala sementara yang lain menjadi sangat sakit sehingga mereka meninggal.

Mereka juga mencatat perbedaan yang jelas yang telah diamati oleh para peneliti; misalnya, kasus di mana satu orang dalam keluarga tetap tidak terinfeksi sementara semua orang di sekitar mereka sakit; atau orang yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi tetapi tidak sakit, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (20/10/2021).

Penulis juga mencatat bahwa sampai sekarang, tidak ada yang benar-benar tahu mengapa ada variabilitas seperti itu dalam merespons infeksi SARS-CoV-2, meskipun ada sejumlah petunjuk. Ada beberapa laporan bahwa orang dengan golongan darah O, misalnya, menderita lebih sedikit saat terinfeksi. Dan ada penelitian lain yang menunjukkan protein tertentu yang diproduksi tubuh kurang atau lebih aktif saat berhadapan dengan virus SARS-CoV-2. Juga telah terungkap bahwa virus membutuhkan protein yang memiliki reseptor seperti ACE2 atau TMEM41B. Jika orang kekurangan reseptor ini, virus tidak dapat bereplikasi.

Para peneliti menyarankan perlunya studi besar tentang variabilitas respons terhadap infeksi SARS-CoV-2. Studi semacam itu akan melibatkan subjek yang percaya bahwa mereka seharusnya terinfeksi penyakit tersebut. Terutama, upaya semacam itu perlu secara aktif merekrut anggota rumah tangga di mana satu orang tetap tidak terinfeksi.

Mereka juga menyatakan bahwa langkah awal studi semacam itu sudah berlangsung—400 sukarelawan yang memenuhi kriteria yang dipersyaratkan telah menandatangani. Para peneliti menyimpulkan dengan mencatat bahwa sifat pandemi menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak akan hilang dalam waktu dekat; dengan demikian, akan bermanfaat jika komunitas sains dapat sepenuhnya memahami mengapa orang-orang meresponsnya dengan sangat berbeda ketika terpapar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *