by

Minim Pesanan, Perajin Terompet Tetap Bertahan

Cirebon: Kondisi pandemi, perajin terompet di Blok Tegalan Desa/Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon tidak banyak yang berproduksi.

Nastira, salah satu perajin yang masih bertahan. Membuat terompet sejak tahun 1998, Nastira mensiasati dengan tetap memproduksi berbagai jenis dalam jumlah sedikit.

“Nggak macem-macem yang dulu modelnya terompet biting, tapi sekarang kan model-model ada lima jenis. Nah kalau pesen juga ada bisa sampai tujuh jenis,” ungkapnya kepada RRI.co.id, Senin (27/12/2021).

Ia biasa memproduski terompet sejak Bulan Februari kemudian disimpan dan dijual pada Bulan November, hingga memasuki tahun baru berikutnya.

Pembeli terompet hasil buatannya tidak hanya dari wilayah Ciayumajakuning, tapi hingga ke Pulau Sumatera, seperti ke Lampung, dan bahkan hingga ke Sulawesi.

Namun sejak Covid-19 merebak pemesan teropet makin berkurang dan berimbas omzet yang terus menurun drastis. Apalagi maraknya isu penggunaan kertas kitab suci untuk bahan baku menyebabkan perajin semakin terpuruk.

“Ya dapet 80 juta, 50 hingga 60 kalau yang dari Sumatera ke sini, tuh kan pake truk. Kalau sekarang jauh lah ya, sebelum corona ada itu sih yang ditulisan Quran itu. Terompet mulai kurang laku. Padahal buatan orang sini nggak ada kertas kitap suci,” jelasnya.

Meski demikian, menurut Nastira, pemasaran diupayakan juga mengunakan aplikasi online yang dilakukan oleh anak-anaknya. Berbagai terompet yang dibuat Nastira memiliki harga berbeda antara Rp100 ribu hingga Rp30 ribu perkodi.

Harapan Nastira di tahun 2022, dagangan terompet buatnya laku kembali, sehingga penjualan meningkat.

“Mudah-mudahan tahun depan ada kemajuan lagi,” imbuhnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *