Membiarkan Warga Terpapar Virus Agar Kebal, Inilah “Herd Immunity”

0
(0)

Jakarta, HN – Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dinilai akan bermanifestasi terjadinya “herd immunity” (kekebalan kelompok/ kawanan) di tengah masyarakat saat pandemi Covid-19.

Pelonggaran ini bisa berarti pembiaran hingga terbentuk herd immunity. Misalnya, dengan pembukaan kembali mal, moda transportasi umum, perusahaan, hingga mengizinkan warga berusia 45 tahun ke bawah kembali bekerja. Ini dilakukan agar kita kebal terhadap virus corona jenis baru yang mematikan ini.

Ketua Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) dr James Allan Rarung menjelaskan herd immunity adalah suatu aktivitas yang menyebabkan munculnya kekebalan terhadap suatu infeksi penyakit menular atau virus di antara individu dalam suatu populasi manusia atau masyarakat.

“‘Herd Immunity’ secara umum adalah membiarkan suatu populasi penduduk untuk terpapar virus sehingga terbentuk antibodi,” katanya, Ahad (17/5).

Namun, World Health Organization (WHO) mengecam konsep herd immunity sebagai cara mengatasi atau melawan Covid-19. Lembaga kesehatan dunia ini menyebut herd immunity berbahaya. “Manusia bukan herds (kumpulan ternak),” kata Direktur Eksekutif Program Kesehatan WHO, Dr Mike Ryan, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Senin (18/5/2020).



Saat ini muncul anggapan untuk membentuk herd immunity, “perlu” pembiaran virus ini menyebar pada sebagian besar masyarakat. Apalagi hingga sekarang belum ditemukan vaksin corona. Sebagian kalangan termasuk WHO menilai pemikiran ini jelas bermasalah.

Baik, apa itu herd immunity? John Hopkins melansir artikel di laman resminya: School of Public Health Expert Insight, dengan narasuber Gypsyamber D’Souza dan David Dowdy, dalam sesi tanya jawab, sebagai berikut:

Herd immunity adalah konsep yang berpandangan bahwa ketika herd immunity terbentuk, mayoritas populasi (kelompok) dengan persentase 70%-80% menjadi kebal terhadap penyakit. Ketika kekebalan ini terbentuk, maka penyebaran virus corona bukan lagi ancaman.

Kekebalan ini terbentuk setelah seseorang terinfeksi dan sembuh. Nah, muncul pandangan bahwa untuk membentuk herd immunity, maka terjadi pembiaran virus menyebar pada sebagian besar masyarakat. Masa ini akan terus berlangsung hingga ditemukannya vaksinasi.

Dengan demikian, jika mayoritas populasi sudah kebal terhadap penyakit menular atau Covid-19, secara tidak langsung akan terjadi perlindungan kekebalan. Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan penyakit secara luas.

Dengan cara ini, penyebaran penyakit menular dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 70% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Bagaimana mencapai kekebalan kelompok untuk penyakit menular lainnya?

Campak, gondong, polio, dan cacar air adalah contoh penyakit menular yang dulunya sangat umum tetapi sekarang jarang di AS karena vaksin membantu membangun kekebalan kawanan. Kami terkadang melihat berjangkitnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin di komunitas dengan cakupan vaksin yang lebih rendah karena mereka tidak memiliki perlindungan kawanan.

Untuk infeksi tanpa vaksin, bahkan jika banyak orang dewasa telah mengembangkan kekebalan karena infeksi sebelumnya, penyakit ini masih dapat beredar di kalangan anak-anak dan masih dapat menginfeksi mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah. Ini terlihat pada banyak penyakit yang disebutkan di atas sebelum vaksin dikembangkan.

Virus lain seperti flu bermutasi seiring waktu, sehingga antibodi dari infeksi sebelumnya hanya memberikan perlindungan untuk jangka waktu yang singkat. Untuk flu, ini kurang dari setahun. Jika SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, seperti virus corona lain yang saat ini menginfeksi manusia, kita dapat berharap bahwa orang yang terinfeksi akan kebal selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tetapi mungkin tidak seumur hidup mereka.

Apa yang diperlukan untuk mencapai Herd Immunity dengan Covid-19?

Seperti halnya infeksi lainnya, ada dua cara untuk mencapai kekebalan kawanan (herd immunity). Sebagian besar penduduk terinfeksi atau mendapat vaksin perlindungan. Berdasarkan perkiraan awal dari infeksi virus ini, kita membutuhkan setidaknya 70% populasi untuk kebal untuk mendapatkan perlindungan kawanan.

Dalam kasus terburuk, misalnya, jika kita tidak melakukan phyisical distancing, atau tindakan lain untuk memperlambat penyebaran Covid-19, virus dapat menginfeksi lebih banyak orang dalam hitungan beberapa bulan. Ini yang akan membuat rumah sakit kewalahan dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

Upaya jangka panjang diperlukan untuk mencegah wabah besar sampai vaksin dikembangkan. Bahkan kemudian, Covdi-19 masih dapat menginfeksi anak-anak sebelum mereka dapat divaksinasi atau orang dewasa setelah kekebalan mereka berkurang.

Mengapa penyelesaian Covid-19 tidak menggunakan cara lain saja?

Dengan beberapa penyakit lain, seperti cacar air, sebelum vaksin varicella dikembangkan, orang-orang kadang-kadang mengekspos diri mereka secara sengaja untuk mencapai kekebalan. Untuk penyakit yang kurang parah, pendekatan ini mungkin masuk akal. Tetapi situasi untuk Covid-19 sangat berbeda. Covid-19 memiliki risiko penyakit parah dan bahkan kematian yang sangat tinggi.

Tingkat kematian untuk Covid-19 tidak diketahui, tetapi data saat ini menunjukkan itu 10 kali lebih tinggi daripada kasus flu. Masih lebih tinggi di antara kelompok rentan seperti orang tua dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Sekalipun jumlah orang yang sama pada akhirnya terinfeksi Covid-19, yang terbaik adalah meredakan infeksi tersebut dari waktu ke waktu untuk menghindari kewalahan dokter dan rumah sakit. Lebih cepat tidak selalu lebih baik, seperti yang kita lihat dalam epidemi sebelumnya dengan tingkat kematian yang tinggi, seperti pandemi Flu 1918.

Apa yang kita harapkan dalam beberapa bulan mendatang?

Para ilmuwan bekerja keras untuk mengembangkan vaksin yang efektif. Beberapa langkah diperlukan untuk mencegah wabah eksplosif seperti yang kita lihat di tempat-tempat seperti New York City (Amerika Serikat).

Langkah physical distancing dapat bervariasi dari waktu ke waktu dan tidak selalu harus seketat aturan undang-undang. Kecuali jika kita ingin ratusan juta orang Amerika (sebagai contoh) terinfeksi Covid-19.

Intinya, apa yang diperlukan untuk membangun kekebalan kawanan (herd immunity), kehidupan tidak akan sepenuhnya “normal” lagi sampai vaksin dapat dikembangkan dan didistribusikan secara luas. (ii/ Sumber: John Hopkins)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Melonggarkan PSBB di Tengah Meningkatnya Kasus Covid-19 Pilihan yang Dilematis

Mon May 18 , 2020
0 (0) Jakarta – Melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah penambahan kasus Covid-19 yang semakin meningkat merupakan pilihan yang dilematis. Hal itu disampaikan pakar kesehatan yang juga sebagai CEO Pharma Care Consulting, Julian Afferino. Menurutnya, kapan Covid-19 ini akan berakhir tidak ada yang mengetahui, WHO juga memperkirakan bahwa […]