Friday, April 16

Lapor ke Presiden, Menkes Antisipasi Embargo Vaksin

Jakarta – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin melaporkan perkembangan program vaksinasi Covid-19 ke Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas, Jumat (26/3/2021). Selain melaporkan soal vaksinasi, Menkes juga melaporkan soal antisipasi terjadinya embargo vaksin di negara Eropa akibat lonjakan kasus.

Budi Sadikin mengaku ada potensi terhambatnya pelaksanaan program vaksinasi Covid-19. Budi mengungkapkan kendala tersebut terkait embargo vaksin Covid-19 dilakukan sejumlah negara.

“Ada lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara seperti di India. Akibatnya terjadi embargo vaksin sehingga dapat mengganggu ketersediaan vaksin dalam waktu beberapa bulan ke depan,” ujarnya dikutip dari detik.com.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berhati-hati mengatur laju penyuntikan vaksin agar tidak terjadi kekosongan vaksin nantinya. Lebih lanjut, Budi mengungkapkan beberapa negara di Eropa saat ini kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19 karena adanya varian virus Corona baru.

Presiden Jokowi, kata dia, meminta agar Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang sudah menunjukkan hasil positif terus bertahan.

“Kita amati terjadinya karena ada strain baru yang sudah ada di Indonesia sejak Januari dan adanya mobilitas yang terlalu agresif pembukaannya. Sehingga arahan Bapak Presiden coba dicari titik keseimbangan agar hasil yang sudah bagus karena PPKM Mikro dan vaksinasi kita tidak kehilangan momentum perbaikannya. Dengan demikian kita diharapkan terus turun dan tidak mengalami lonjakan seperti di Eropa,” tutur Budi.

Sementara soal sasaran, Budi mengungkapkan saat ini sudah 10 juta warga telah menjalani vaksinasi. Ia mengaku jumlah tersebut akan terus bertambah per harinya sekira 500 ribu.

“Alhamdulilah dan insyaallah hari ini vaksinasi akan menembus 10 juta vaksinasi. Dengan kecepatan harian kita mendekat 500 ribu penyuntikan per hari, sehingga diharapkan Maret dan April di mana ketersediaan vaksin adalah 15 juta per bulan, kita sudah sesuai kecepatan penyuntikannya,” ucapnya.

Budi juga berpesan kepada warga sudah menjalani vaksinasi untuk terus mematuhi protokol kesehatan, mengingat vaksin Covid-19 tidak membuat kebal. Menurutnya, dengan patuh protokol kesehatan, laju penyebaran Covid-19 bisa terus ditekan.

“Kita tetap bisa terkena tapi tidak akan parah dan tidak perlu ke rumah sakit, jadi vaksinasi tidak membuat kita kebal, tidak mungkin terkena. Tapi masih bisa terkena, tapi karena antibodi baik segera cepat sembuh dan tidak harus ke RS tapi masih bisa menularkan. Karena itu tetap memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sehingga adanya strain baru pun tidak usah kita khawatirkan,” kata Budi.

Dia juga mengingatkan warga lanjut usia (lansia) untuk segera divaksinasi. Sebab, saat ini, lansia adalah yang paling rentan terkena Covid-19.

“Yang masuk RS dan dirawat itu banyak lansia, oleh karena itu tolong dibantu semua orang tuanya, kakek, nenek, mertua, tante semua di atas 60 tahun tolong segera diajak divaksinasi. Untuk semua kepala daerah dan tenaga kesehatan tolong konsentrasi memberikan vaksin ke lansia. Karena insyaallah kalau sudah diberikan kalau ada apa-apa lagi. Yang masuk RS dan wafat akan sangat rendah karena umumnya yang masuk RS dan wafat adalah lansia, kalau kita bisa segera melakukan vaksinasi untuk yang di atas 60 tahun akan sangat kecil tekanan ke RS dan tenaga kesehatan kita,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *