Kenapa Tidak Ditarik Saja Semua Menteri PDIP dari Kabinet Jokowi?

Jakarta – Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Megawati menolak usulan penarikan menteri dari PDIP itu karena dinilai bisa memicu gejolak politik.

“Ada menteri dari kader PDI-P meminta arahan ke Ibu Mega terkait situasi (politik), tetapi ibu tetap memberikan garis kebijakan bahwa kepentingan rakyat, bangsa, dan negara harus diutamakan,” kata Hasto yang dikutip Minggu (4/2/2024).

Menurut Hasto, sejumlah kader PDI-P yang berada di kabinet disebut sudah siap mengundurkan diri dengan alasan melihat situasi politik yang kurang baik, terutama setelah Gibran Rakabuming Raka yang merupakan anak sulung Jokowi bisa melenggang menjadi calon wakil presiden mendampingi capres Prabowo Subianto.

Tanggapan pengamat: Megawati menunggu momentum
Sementara, CEO Polmark Research Center Eep Saefulloh Fatah menilai, Ketua Umum PDIP itu menunggu momentum untuk bersikap lebih tegas atau “perang terbuka” terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Bu Mega itu orang yang tahu pergerakkan momentum. Di dalam politik, momentum itu penting. Jadi ada timing, ada linimasa, ada rangkaian peristiwa, ada jahit-menjahit adegan segala macam, urusan-urusan rumit itu dikumpulkan, itu momentum,” kata Eep dalam program GASPOL!.

Menurut Saefulloh, Megawati sudah menunjukkan kekesalannya terhadap Jokowi secara tersirat sejak kampanye akbar di Bandung, dua pekan lalu.

Ia menilai, pidato Megawati saat itu menyinggung politisasi aparatur negara merupakan ekpresi kemarahan terhadap Jokowi dan menunjukkan bahwa Megawati dan Jokowi berpisah jalan.

“Itu mengekspresikan alamat sudah terpisah, sudah berbeda, sudah ada di tempat yang berseberangan, sudah melakukan sesuatu yang harus saya lawan, kira-kira kayak begitu pernyatan Bu Mega,” ujar Saefulloh.

Hanya saja, Saefulloh menilai, Megawati belum mengambil langkah yang lebih tegas, semisal menarik menteri PDI-P dari kabinet, karena masih menunggu momentum.

Ia menjelaskan, momentum itu seperti bandul yang bergerak dari sisi keberlanjutan dan perubahan.

Menurut Eep Saefulloh, Megawati tengah menunggu pergerakan bandul itu akan keras ke sebelah mana.

“Kalau ternyata gagal itu pemaksaan satu putaran, momentum melebar, dan kelanjutan bisa kehilangan momentum. di situlah barangkali Bu Mega akan mengambil langkah-langkah yang lebih tegas, lebih firm,” ujar Eep.

Memang, saat kampanye Akbar Ganjar-Mahfud di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (3/2/2024), Megawati Soekarnoputri kembali menyinggung pemerintahan Presiden Jokowi.

Ia mengingatkan agar tidak melakukan intimidasi kepada pendukung calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) Ganjar Pranowo-Mahfud. “Ingat, hei polisi, jangan lagi intimidasi rakyatku! Hei tentara, jangan lagi intimidasi rakyatku,” kata Megawati.

Putri Presiden Pertama RI Soekarno itu mengingatkan jika setiap warga negara sepatutnya dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Ia pun menyindir adanya upaya mempertahankan kekuasaan.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *