by

Jumlah Investor Ritel di Pasar Modal Naik

Jakarta: Sepanjang tahun 2021 industri pasar modal Indonesia dalam kondisi stabil, dan masih dapat merespon dengan baik tolatilitas yang terjadi akibat berbagai sentiment yang muncul.

“Ini pertanda bahwa pasar modal kita memiliki kedalaman investor. Sejak awal pandemi hingga Juli 2021, pertumbuhan investor mencapai dua kali lipat yang menunjukkan tingginya optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam peringatan ’44 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia’, Selasa (10/8/2021).

Dari data OJK, hingga Juli 2021 jumlah investor pasar modal meningkat menjadi 5,82 juta yang didominasi oleh investor ritel dari kalangan milenial dengan usia dibawah 30 tahun.

Peningkatan jumlah investor ritel itu, kata Wimboh, adalah hasil transformasi digital yang menjadi kunci utama pendalaman basis investor di pasar modal.

Selain itu, penghimpunan dana melalui pasar modal juga bertumbuh mencapai Rp 117,94 triliun hingga 3 Agustus 2021, atau meningkat 99,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penghimpunan dana sebesar itu berasal dari 27 emiten baru yang melakukan penawaran saham perdana (IPO).

“Angka tersebut belum termasuk IPO perusahaan start-up Bukalapak tanggal 6 Agustus 2021. Penghimpunan dana itu hampir melampaui perolehan di tahun 2020 sebesar Rp 118,7 triliun,” tukas Wimboh.

Wimboh menyatakan yakin, di akhir tahun 2021, penghimpunan dana di pasar modal mampu mencapai level sebelum pandemi karena saat ini masih ada 83 penawaran umum(pipeline) dengan nilai mencapai Rp 52,56 tirliun. Dari 83 penawaran baru, 40 diantaranya akan dilakukan melalui mekanisme IPO.

“Ke depannyanya OJK akan terus berupaya meningkatkan basis supply antara lain dengan mengakomodir calon emiten dari sektor ekonomi baru atau start-up yang diharapkan akan lebih meramaikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia,” tambah Wimboh.

Antusiasme dan optimisme penghimpunan dana melalui pasar modal diharapkan dapat menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi nasional. Terlebih lagi, menurut Wimboh, di masa pandemi ini konsumsi masyarakat yang menurun menyebabkan banyaknya income masyarakat yang mengendap di perbankan.

“Masyarakat akan mencari alternatif investasi lain dengan return yang lebih tinggi, salah satunya investasi di pasar modal,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *