Thursday, May 6

Ini Penampakan Tuyul Mirip Katak Atau Katak Mirip Tuyul, Ini Penjelasan Ilmuan

Tangkapan Layar

Jakarta – Beredar di media sosial unggahan video menampilkan katak putih dengan kepala mengembang, sedang berenang di dalam air.

“Tuyul air? African Clawed Frog atau katak bercakar dari Afrika ini, merupakan salah satu hewan yang berada di Museum Discovery, yang berada di kawasan Kota Mini Floating Market. Sesuai namanya, hewan ini berasal dari Sahara, Afrika,” tulis akun Instagram @makassar_iinfo.

Menanggapi hal tersebut, peneliti Bidang Herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy menyatakan, katak yang disebut seperti tuyul air itu adalah xenopus laevis atau katak pencakar afrika.

Menurutnya, katak itu banyak dan umum ditemui. Sering juga digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium.

“Asalnya memang dari Afrika, tetapi sudah banyak tersebar di seluruh dunia. Banyak dibudidayakan sebagai hewan peliharaan juga,” ujar Amir seperti yang dikutip Kompas, Minggu (21/3/2021).

Katak yang juga bernama african clawed frog ini memiliki warna asli kecokelatan dengan sedikit hitam.

Sementara dalam video yang viral tersebut, katak pencakar afrika berwarna putih dengan bentuk kepala yang mengembang.

Menurut Amir, katak itu mengalami kelainan.

“Yang di video itu saya lihat kataknya berwarna putih, kemungkinan karena albino atau leucistic. Artinya kelainan pigmentasi di dalam tubuh katak atau hewan-hewan yang lain. Lalu yang kelihatan besar kepalanya dan dikatakan seperti tuyul itu kemungkinan karena hidrosefalus di katak itu,” tambahnya.

Hidrosefalus pada hewan juga mungkin disebabkan karena infeksi bakteri sehingga membuat kepala membesar.

Dikatakannya, jika hewan sudah dibudidayakan, akan membuat asal-usul genetiknya menjadi bercampur.

“Nah biasanya banyak penyakit-penyakit kelainan seperti itu. Sehingga itu (katak) mengalami kelainan karena penyakit pada hewan hasil budidaya dan statusnya juga albino kalau tidak ya leucistic,” jelas Amir.

Perbedaan antara albino dan leucistic, dapat dilihat dari warna matanya. Jika berwarna merah, dapat dipastikan albino, apabila tidak merah, maka leucistic.

Mengenai sifat dari katak ini, Amir menyatakan sifatnya tidak agresif.

“Kalau agresif sih enggak, semua katak kan predator ya, karnivora, pemakan ikan, serangga air, berudu lain, ya mungkin jadi mangsa dia (katak) di habitat aslinya,” tandasnya.

Lebih lanjut Amir menjelaskan, populasi katak bernama ilmiah Xenopus Laevis ini tidak terancam lantaran banyak tersebar dan dipelihara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *