Ini Fakta, Masih Ada yang Tak Percaya Corona

0
(0)

Yogyakarta : Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Yogyakarta telah mengerahkan 200 orang Duta Perubahan Perilaku untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya protokol kesehatan. Khususnya protokol 4 M yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Namun fakta mengejutkan dipaparkan Plt Kepala DPPKB Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto Raharjo. Ketika memberi paparan kepada tim monitoring dari BNPB dan Satgas Covid-19 pusat, Kamis (17/12/2020) siang, Tri Karyadi menerangkan, dari sosialisasi dan edukasi yang diberikan Duta Perubahan Perilaku kepada 281.029 penduduk Kota Yogyakarta mulai 1-16 Desember, ternyata ada 450 orang yang tak mempercayai ataupun bersikap acuh tak acuh alias apatis terhadap pandemi Corona saat ini.

“Ada yang tanpa diedukasi pun, mereka sudah punya komitmen untuk menegakkan protokol kesehatan. Tapi ada yang benar-benar menolak, menganggap Covid-19 itu tidak ada. Meskipun kecil jumlahnya 450 orang, tapi perhatian kita akan tertuju untuk 450 orang itu,” ujarnya.

Meski jumlahnya relatif kecil, 0,16 persen, namun Tri Kariyadi menekankan, pihaknya akan berupaya keras melakukan pendekatan kepada warga yang masih belum peduli terhadap protokol kesehatan agar tak terjadi transmisi baru Covid-19. Duta Perubahan Perilaku diminta untuk melakukan pendekatan yang lebiih intensif kepada warga Kota Yogyakarta yang masih menganggap pandemi bukan persoalan serius.

“Meski kecil, tapi ini nanti dampakinya bisa besar kalau terjadi penularan,” jelas Tri Kariyadi.

Dari sosialisasi dan edukasi yang mereka lalukan selama dua pekan, sebanyak 128.934 orang yang diedukasi atau 45,88 persen menyatakan komitmennya untuk menjalankan protokol kesehatan secara disiplin. Sedangkan 151.645 orang atau 53,96 persen menyatakan dukungannya terhadap penanganan pandemi Covid-19. Sementara yang menolak berjumlah 450 orang atau sekitar 0,16 persen.

“Tapi kita masih belum mengecek secara mendetail apakah orang yang menolak atau menerima ketika dilakukan sosialisasi itu benar-benar orang Kota Yogyakarta, karena bisa saja mereka orang Sleman atau Gunungkidul tetapi tinggal dan bekerja di Kota Yogyakarta,” tandasnya.

Sementara itu, Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ir Rifai mengapresiasi edukasi dan sosialisasi yang dilakukan Duta Perubahan Perilaku Kota Yogyakarta untuk mendisplinkan publik protokol kesehatan. Namun BNPB mengharapkan, kerja yang dilakukan 200 orang duta tersebut tak bersifat temporer. Salah satu momentum penting yang perlu mendapat perhatian khusus, ujar Rifai, adalah masa libur Natal dan Tahun Baru.

“Bahwa capaian laporan (Duta Perubahan) ini menjadi suatu hal yang wajib, tetapi efektivitas, keberlanjutan dalam rangka sosialisasi dan edukasi, mohon maaf Pak Wawali ini kan tidak bisa hanya dua pekan. Bagaimana kita menghadapi nanti tanggal 24, 25 sampai 27, bergerak nanti 31 Desember sampai 3 Januari,” terangnya.

Terlebih lagi Yogyakarta merupakan kota destinasi wisata favorit. Tak hanya itu saja, perayaan Natal juga harus menjadi target Duta Perubahan Perilaku demi mencegah klaster baru Covid-19.

“Saya lihat potensi yang sangat berat ini menghadapi tanggal 24, 25, 31 Desember dan 1 Januari,” tutur Rifai.

Pemkot Yogyakarta pada 1 Desember yang lalu telah melantik 200 orang duta perubahan perilaku yang masing-masing berasal dari empat orang di setiap kecamatan ditambah 40 generasi muda dari Pusat Informasi Konseling Remaja (PKIR)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *