Thursday, May 6

Ini Cara Bijak Membaca Pesan di Media Sosial

Jakarta – Praktisi Komunikasi, Luthfi Subagio mengatakan saat ini anomali media membuat persoalan menjadi sulit. Terlebih saat ini banyak media cetak yang mengangkat sumber dari tulisan masyarakat di media sosial, tentunya hal ini membuat turunnya kepercayaan terhadap media.

“Saat ini media sudah seperti kaos kaki, asal pakai aja. Seharusnya bermedia sosial bukanlah seperti memakai kaos kaki yang ‘all size’ , semua jenis aplikasi dapat dipakai untuk suatu materi,” ujarnya saat mengisi Webinar Bersosial Media Secara Smart dan Bijak di platform YouTube Muhammadiyah Malaysia, Sabtu (20/3) kemarin.

Dijelaskan Luthfi, media berdiri karena sekumpulan orang mengumpulkan berita yang benar, sedangkan media sosial itu sekumpulan orang yang belum tentu benar. Sehingga belum bisa dipercaya sebagai sumber.

“Semakin banyaknya media yang bersumber pada opini orang di media sosial, maka akan muncul rendahnya literasi, malas membaca, malas mendengar, hingga malas berpikir,” ujarnya.

Ia menambahkan, di Indonesia sendiri dengan populasi 274,9 juta jiwa, ada sebanyak 170,0 juta jiwa, atau 61,7 % nya beraktivitas di media sosial. Pengguna media sosial paling besar usia 25-34 tahun. Rata-rata, mereka mengakses media sosial 3 jam, 14 menit per hari nya.

Banyaknya penggunaan terhadap media sosial pada akhirnya membuat media sosial lebih ketat dalam membagi postingan. Pada Facebook misalnya, segala infromasi tentang Covid-19 dibanned. Hal ini untuk menghindari hoaks, karena yang berhak memberikan informasi tentang Covid-19 adalah pemerintah.

Media sosial adalah salah satu medium dalam pencarian berita atau pesan, karena itu jangan menganggapnya sebagai sumber kebenaran yang mutlak. Jadi akan lebih baik untuk membaca dan dengarkan juga sumber yang lain.

“Jadi sekarang cross check ke sumber berita ya repot, cross check nya yang benar adalah ke sumber yang lain. Sekarang kita tidak bisa takluk pada sosial media. Seringkali ada kejadian karena kita terpeleset, mudahnya kita digiring dalam satu pola karena mereka memainkan kesadaran kita,” ujarnya.

Peran buzzer dan influencer juga berperan dalam penggunaan media sosial. Oleh karena nya, dalam membaca pesan di media sosial perlu memperhatikan darimana sumber nya, siapa yang menulis, tujuannya apa, bijak menyikapi, dan kontrol jari.

Saat ini banyak pelaku media sosial terjangkit Syndrome Echo Chamber, yaitu kondisi dimana kita hanya mendengar apa yang kita teriakkan tanpa tahu kondisi nyata. Tidak hanya itu, pelaku media sosial biasanya menempatkan perasaan di atas akal pikiran. Sehingga informasi yang beragam sulit mengalir.

Berdasarkan materi yang diberikan, yang terjadi pada tahun 2021 ini, konten video akan lebih diminati. Bukan lagi sekadar berita berbentuk tulisan. Teknologi augmented reality (AR) juga akan dinikmati, seperti dulu yang pernah booming yaitu Pokemon Go. Fitur Stories juga akan menjadi andalan. Influencer akan berjaya, belanja digital akan semakin oke, hingga beberapa media sosial seperti TikTok, Linkedin, dan Twich akan berjaya. (lia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *