Friday, May 7

Ini Bedanya Tes Cepat dengan PCR/Swab?

Jakarta – Wabah virus corona (Covid-19) memperkenalkan banyak hal baru. Orang jadi tahu istilah ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan). Selain, tentu saja, begitu populernya istilah Covid-19 dan virus corona akibat wabah tersebut.

Hal baru lainnya yang banya dipergunjingkan masyarakat adalah soal tes cepat (rapid test) dan tes swab atau PCR (polymerase chain reaction). Ada pula yang menyebut RTPCR, yakni reserve transcription polymerase chain reaction.

Meski kosa kata itu sangat karib kita dengar, namun belum tentu masyarakat tahu detail maknanya. Barangkali hanya tenaga medis saja yang paham secara mendalam perbedaan kedua tes yang sama-sama bertujuan untuk mengetahui ada-tidaknya infeksi virus corona dalam tubuh seseorang.

Tes cepat bersifat massal. Basis data yang digunakan adalah darah. Dengan pengambilan sampel darah, kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, tes cepat akan mengukur antibodi dalam tubuh seseorang. Ini berarti hal itu tidak langsung mengidentifikasi adanya virus corona dalam tubuh. Dari tes ini akan terlihat reaksi tubuh terhadap virus corona.

Tes cepat hanya membutuhkan waktu 10 menit dan paling lama dua jam. “Dengan alat kit, dalam waktu kurang dari dua menit akan ketahuan hasilnya,” tutur Yuri. Jika pemeriksaan tes cepat mengindikasikan positif, maka akan diikuti tes PCR untuk lebih memastikan hasil positif tadi.

Sebaliknya, bila tes cepat mengindikasikan hasil negatif, maka pasien perlu melakukan isolasi selama 7-10 hari. Tujuannya, agar terhindar dari kemungkinan terpapar virus sehingga bisa benar-benar negatif. Setelah isolasi, sebaiknya pasien menjalani tes lagi agar lebih pasti.

Tes cepat perlu dilakukan, sebagaimana tertera di laman Pemprov DKI Jakarta, jika seseorang memenuhi tiga kriteria ini:

Melakukan kontak erat dengan orang yang memiliki risiko rendah atau ada riwayat kontak dengan PDP.
Melakukan kontak erat dengan risiko tinggi atau riwayat kontak dengan pasien terkonfirmasi Covid-19
ODP yang telah merasakan gejala batuk, sesak napas, dan demam atau ODP yang:
– Punya riwayat perjalanan/tinggal di luar negeri.
– Punya riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal.
Adapun tes swab atau PCR selama ini dinilai jauh lebih akurat hasilnya daripada tes cepat. Tes swab ini dilakukan dengan cara mengambil cairan dalam tubuh yang paling banyak tertular virus corona.

Pasien akan diambil cairan di hidung dengan cara mengusap. Tentu usapan itu menggunakan alat. “Di samping dari hidung, cairan bisa diambil juga dari dahak,” ungkap Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito.

Tes PCR secara umum memang lebih memerlukan waktu. Paling cepat, tes PCR bisa dilaksanakan dalam 30 menit. Namun, sering waktu yang diperlukan lebih lama lagi karena akan sanngat tergantung reagen atau cairan yang dibutuhkan. Pemeriksaan corona melalui tes PCR memiliki akurasi yang lebih tinggi.

Menurut Yuri, tatkala sampel cairan saluran pernapasan atau dahak dibawa ke laboratorium, petugas melakukan ekstrak asam nukleat. Nah asam nukleat yang mengandung genom virus inilah yang menentukan ada atau tidaknya infeksi dalam tubuh. Tes PCR hanya dilakukan pada mereka yang berisiko lebih tinggi dalam terpapar virus corona. Jika hasilnya positif, pasien wajib dirawat di rumah sakit. (AS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *