by

Industri Rumahan Ganja Sintetis Berhasil Dibongkar

Tangerang: Polresta Bandara Soekarno Hatta (Soetta) membongkar industri rumahan narkotika jenis ganja sintetis yang diedarkan secara masif melalui media sosial instagram.

“Kami mengungkap home industri ganja sintesisi di daerah Bogor dan Banten,” ungkap Kombes Pol Edwin Hataroang Hariandja, Rabu (10/11/2021).

Tersangkanya, sambung Edwin, satu pasang yakni, pria berinisial FATF dan perempuan berinisial DA dengan barang bukti 1 kg ganja sintetis.

“Ganja sebagai barang bukti ini dibeli melalui akun instagram RBS (Reborn Speed Indonesia, Red),” terang Kapolres.

Setelah dilakukan pengembangan, lanjutnya, mengerucut kepada satu orang pria berinisial MSW alias P.

“Tersangka P ini dibekuk di daerah Tanah Baru, Bogor, Jawa Barat dengan barang bukti ganja sintetis seberat 10,26 gram,” ujarnya.

Masih menurut Edwin, tidak hanya itu, polisi juga meringkus pria berinisial AHP alias A dilokasi yang sama dengan tersangka MSW alias P.

“Tersangka AHP ini adalah penyedia bahan baku dari home industri ini seperti bibit sintetis. Dari tangan tersangka AHP diamankan 25 gram bibit sintetis,” ungkapnya.

Edwin menyatakan, dari pengakuan para tersangka, mereka dikendalikan oleh seseorang pria yang berada didalam Lapas Bogor berinisial IFS.

“Mereka ini memproduksi barang haram secara masal dengan cara home industri,” imbuhnya.

Ditambahkan, Kasat Narkoba Polresta Bandara Soekarno Hatta, AKP Nasrandhy, saat pihanya menciduk tersangka diwilayah Bogor diamankan pula barang bukti mulai dari bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi ganja sintetis, kemudian alat timbang elentrik, kompor, aceton dan bahan utamanya bibit sinte.

“Home industri ini sudah berjalan delapan bulan dimana setiap bulannya para tersangka memproduksi sekitar 8-10 kg ganja sintetis dengan keuntungan Rp200-Rp250 juta/bulan,” ucap Rhendy sapaan akrabnya.

Rhendy membeberkan, bahan baku untuk membuat barang haram ini dibeli para tersangka dari lapak jasa penyedia di internet. “Bahan baku dibeli dari jasa penyedia internet seperti Tokopedia,” tandasnya.

Masih menurut Rendhy, sasaran pemasaran dari ganja sintetis ini adalah generasi muda atau menial karena melalui media sosial dengan harga paketan mulai Rp500 robu sampai Rp1 juta.

“Setiap minggu para hanya akan memproduksi sekitar 2 sampai 3 kilo, jadi ketika dia memproduksi selama 1 minggu, 2 sampai 3 kilo itu akan langsung dijual setelah habis baru akan diproduksi kembali,” urainya.

Atas perbuatannya, para tersangka diganjar dengan Pasal 114 Ayat 2 Subsider Pasal 112 Ayat 2 Juncto Pasal 132 Ayat 1 UU Nomor 35vtahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana penjara seunur hidup atau pidana penjara minimal enam tahun dan maksimal 20 tahun.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *