by

Indonesia Miliki Kekuatan Besar, Harus Optimistis

Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menggaungkan optimisme kepada semua pihak dalam menghadapi berbagai masalah yang melanda dunia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi dan kekuatan besar, seperi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) melimpah.

Hal itu disampaikannya, saat menyampaikan pidato dalam acara Kompas100 CEO Forum Tahun 2022 di Istana Negara, Jumat (2/12/2022). “Berkali-kali saya sampaikan, kita ini memiliki potensi besar, memiliki kekuatan besar, tapi sering kita lupakan,” kata Presiden.

Presiden berujar, Indonesia juga memiliki pasar besar termasuk pasar ASEAN yang mencapai 600 juta penduduk. Ia melanjutkan, dari sisi geografis, posisi Indonesia juga sangat strategis karena berada di jalur perdagangan dunia.

“Kekuatan inilah yang harus kita ingat-ingat terus dalam rangka membangun sebuah strategi besar bisnis negara. Strategi besar ekonomi negara agar kita bisa mencapai visi yang kita inginkan,” ucapnya.

Menurutnya, Indonesia sudah lama menganut keterbukaan ekonomi. Hanya saja, Presiden menegaskan bahwa keterbukaan ekonomi tersebut jangan sampai disalahartikan.

Presiden mencontohkan, sejumlah negara di Amerika Latin yang sudah menerapkan keterbukaan ekonomi sejak 1950-an dan 1960-an. Namun, mereka justru tetap menjadi negara berkembang hingga saat ini.

Presiden memandang hal yang berbeda terjadi di Taiwan dan Korea Selatan yang kemudian membuat pemerintah mendesain strategi besar. Menurutnya pemerintah harus membuat negara lain bergantung kepada Indonesia.

Menurut Presiden, banyak negara yang sebetulnya bergantung kepada Indonesia. Ia mencontohkan terkait batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO.

“Siapa sih yang tergantung pada kita? Ternyata banyak sekali. Begitu batu bara kita stop dua minggu saja, yang telepon ke saya banyak sekali,” katanya.

Hal yang sama juga pada CPO (minyak sawit). Menurut Presiden banyak yang mempertanyakan, termasuk IMF dan Bank Dunia.

“Sebetulnya ini sudah beberapa kali saya cek, siapa sih yang tergantung pada kita, ternyata banyak sekali. Begitu batu bara kita stop dua minggu saja, yang telepon ke saya banyak sekali kepala negara, perdana menteri, presiden,” ujarnya.

“Begitu kita stop karena saya harus stop, banyak pertanyaan dari luar, dari IMF, dari Bank Dunia kenapa stop?. Ya karena dalam negerinya hilang barangnya, saya harus utamakan rakyat saya dulu,” ucapnya.