Thursday, June 24

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Suara Kaum Muda: Berhenti Dari Adiksi Rokok Tanpa Harus Berganti Jenis


Jakarta, – Sehari setelah seluruh dunia merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan tema yang diusulkan WHO “Commit to Quit” atau “komitmen berhenti merokok”. Komnas Pengendalian Tembakau, Yayasan Jantung Indonesia, Persatuan Dokter Paru Indonesia, L Men, 9cm Indonesia, Centennialz.id, Forum OSIS Nusantara, Forum OSIS Jawa Barat dan Smoke Free Agents mengadakan acara webinar bertajuk Youth Talk #QuitNotSwitch: Keren Tanpa Rokok sebagai salah satu bagian dari rangkaian kegiatan “Festival Keren Tanpa Rokok”. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda yang menjadi target untuk dijadikan perokok pengganti oleh industri rokok, lebih memahami bahaya rokok serta cara untuk tetap bisa berkarya dan bermanfaat tanpa intervensi (bujukan) industri rokok. Kaum muda adalah target rentan industri rokok, ditambah adanya kampanye untuk beralih ke rokok elektronik dengan citra sebagai rokoknya kaum muda. Maka dari itu, kami juga menyerukan kepada kaum muda selain untuk #CommittoQuit, tetapi juga #QuitNotSwitch.

Saat ini, prevalensi perokok anak di Indonesia masih tinggi, yaitu sebesar 9,1% pada 2018 naik dari 2013 sebesar 7,2% (Riskesdas, 2018). Sementara itu, pemerintah telah memiliki target untuk menurunkan angka prevalensi perokok anak hingga 8,7% per tahun 2024. Komitmen untuk berhenti merokok pada masyarakat sekaligus juga upaya untuk melindungi anak-anak dan kaum muda oleh pemerintah saat ini sangatlah vital.

Saat ini, kaum muda bukan hanya disasar oleh produk rokok konvensional saja, akan tetapi juga rokok elektronik. Dilansir dari data Sirkesnas 2016 dan Riskesdas 2018, prevalensi perokok elektronik dewasa (Usia ≥15)naik dari 2,0% tahun 2016 menjadi 2,7% pada tahun 2018. Hal ini jauh lebih sedikit dibandingkan kenaikan prevalensi perokok elektronik remaja (Usia 10 – 18 Tahun) yang naik hampir 10 kali lipat, dari 1,2% pada tahun 2016 menjadi 10,9% pada tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa pangsa pasar yang ditargetkan oleh rokok elektronik adalah memang anak-anak muda di Indonesia, padahal rokok elektronik sendiri memiliki dampak buruk kesehatan. Rokok elektronik bukanlah solusi untuk berhenti merokok melainkan memperparah kondisi perokok yang bahkan bisa menyebabkan
double burden karena tidak bisa beralih dari rokok konvensional dan menjadi konsumen baru dari rokok elektronik.

Maka dari itu, dalam acara Youth Talk #QuitNotSwitch: Keren Tanpa Rokok hadir beberapa tokoh muda yang menyampaikan karya serta kegiatan sosial mereka yang telah banyak berdampak baik bagi Indonesia. Mulai dari konten tanpa promosi rokok, pekerja di industri kreatif tanpa intervensi rokok, tokoh dengan gaya hidup sehat tanpa produk rokok, berprestasi dalam akademik tanpa beasiswa industri rokok hingga aktivis HAM yang juga membela pengendalian tembakau tanpa bias kepada industri rokok. Tokoh-tokoh muda itu adalah, Rinaldi Nur Ibrahim seorang content creator, Eva Mega Astria dan Ovita Pattari sebagai pekerja industri kreatif, Okky Alparessi The New L Men of the Year 2020, Andhika Sudarman alumni Harvard Law School dan Pendiri SejutaCita Indonesia, hingga Usman Hamid seorang aktivis HAM dan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia.

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Deputi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK (drg. Agus Suprapto M.Kes) yang mengatakan bahwa, “Berdasarkan data GYTS, hampir 57 juta lelaki Indonesia merupakan perokok, saya kira kita harus siapkan generasi muda yang bebas dari rokok, karena terlalu banyak energi dan rupiah kita untuk membeli rokok yang hanya memperkaya salah satu pihak”. Setelahnya dr. Feni Fitriani Taufk Sp.P(K), M.Pd.Ked selaku ketua Pokja Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyampaikan bahwa, “Selain rokok konvensional, rokok elektronik juga bisa menyebabkan adiksi, dan rokok elektronik bukanlah alat untuk berhenti merokok. Serta merokok meningkatkan resiko seseorang terpapar COVID-19, maka mari berhenti merokok baik konvensional maupun elektronik”. Kegiatan ini juga didukung oleh Yayasan Jantung Indonesia dengan kehadiran Mikha Tambayong selaku Duta Yayasan Jantung Indonesia yang menyerukan kepada kaum muda untuk, “tidak merokok karena merokok bukan hanya berbahaya untuk perokok aktif tapi juga untuk orang disekelilingnya (perokok pasif), dan bagi para perokok untuk berhenti merokok bukan beralih ke rokok elektronik karena juga sama bahayanya.”

Acara ditutup dengan penyerahan Penghargaan Pengendalian Tembakau dari Komnas Pengendalian Tembakau kepada Komunitas “Keren Tanpa Rokok 2021” kepada Pemuda Penggerak dari Kota Solo sebagai komunitas yang terdiri atas anak-anak muda yang memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pengendalian tembakau di daerahnya dan telah banyak berkontribusi pada upaya advokasi pengendalian tembakau di Indonesia.(komnaspt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *