by

Hari Kebangkitan Nasional Momentum Meninggalkan Politik Identitas

Jakarta: Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo mengingatkan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada Jumat (20/5/2022) momentum meninggalkan politik identitas dalam perpolitikan nasional.

“Bukan lagi politik itu sekedar menggunakan identitas untuk menarik suara,” kata pria yang akrab disapa Romo Benny dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat (20/5/2022) malam.

Ia menyayangkan masih adanya politisi yang menarik suara masih menggunakan politik identitas. Meski demikian, Romo Benny percaya jika politik identitas akan ditinggalkan jika masyarakat memiliki literasi yang kuat.

“Tetapi kalau masyarakat mulai dewasa, kesadaran literasi kuat kemudian masyarakat mendapat pendidikan politik, politik identitas semakin hari semakin ditinggalkan,” jelasnya

“Kita percaya masyarakat akan dewasa. Artinya momentum ini jangan disia-siakan bahwa kita mampu mengatasi krisis ini harus kita gunakan momentum ini menuju kebaikan bangsa ini seperti seruan pak Jokowi di hari Kebangkitan Nasional,” tambahnya.

Selaras dengan itu, menurutnya, Hari Kebangkitan Nasional juga harus menjadi momentum untuk bangkit dan Indonesia menjadi negara maju. Hal itu lantaran Indonesia mempunyai modal yang kuat yaitu bisa mengatasi pandemi Covid-19.

“Itu dibutuhkan kebersamaan, persaudaraan mari kita hindarkan diri kita dalam perpecahan,” tegasnya.

Sebelumnya, Romo Benny dalam keterangan terulisnya menekankan pentingnya penerapan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menyampaikan dalam Era Presiden Joko Widodo pancasila hendak dikembalikan menjadi kenyataan hidup berbangsa dan bernegara yaitu menjadi living and working Ideology Pancasila merupakan kapital kita sebagai bangsa dalam berkehidupan sehari hari khususnya di masa ini dalam menghadapi covid 19.

Menurutnya, Working Ideology yang dilaksanakan dibuktikan dengan kian sempitnya jurang jurang perbedaan diantara masyarakat indonesia seperti dalam aspek sarana prasarana hingga dikotomi jawa-luar jawa tidak lagi menjadi isu karena ada usaha pemerataan pembangunan.

“Pelaksanaan Pancasila sebagai Working Ideologi tidak mudah karena kita menghadapi situasi geopolitik yang tidak menentu . Masyarakat terjebak dalam hoaks, narasi negatif dan rasa takut , maka habituasi dan pembiasaan nilai nilai Pancasila harus dikembalikan dalam arus utama masyarakat hingga tujuan negara dapat dilaksanakan,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.