Friday, April 16

Harga Minyak Dunia Kembali Rontok, Berpengaruhkah terhadap Indonesia?

Jakarta – Harga minyak dunia kembali jatuh pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB, 7/4)). Harga minyak sempat kembali naik minggu lalu setelah Arab Saudi dan Rusia menunda pertemuan produsen minyak yang bertujuan mengatasi meningkatnya kelebihan pasokan di seluruh dunia ketika permintaan turun akibat pandemi virus corona.

Jatuhnya harga minyak dunia rupanya tak berpengaruh pada kondisi di Indonensia. Hingga saat ini harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina masih bergeming di posisinya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Mei, turun 2,26 dolar AS atau 8,0 persen dan bertengger pada 26,08 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 1,06 dolar AS atau 3,1 persen, menjadi menetap di 33,05 dolar AS per barel.

Penurunan itu terjadi bahkan setelah pernyataan Kirill Dmitriev, CEO Dana Investasi Langsung Rusia, dana kekayaan negara yang mengelola 10 miliar dolar AS. Ia mengatakan pada Senin (6/4/2020) bahwa Rusia dan Arab Saudi “sangat dekat” dengan kesepakatan pengurangan produksi minyak.

“Saya pikir seluruh pasar memahami bahwa kesepakatan ini penting dan akan membawa banyak stabilitas. Stabilitas yang sangat penting bagi pasar dan kami sangat dekat,” tutur Dmitriev dalam wawancara daring dengan CNBC.

Harga minyak AS turun lebih besar daripada patokan global Brent. Ini dipicua laporan dari penyedia data Genscape yang menunjukkan bahwa persediaan di pusat penyimpanan Cushing di Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, naik sekitar 5,8 juta barel pekan lalu, kata para pedagang seperti dikutip Reuters.

Jika angka-angka itu dicocokkan dengan data resmi Badan Informasi Energi AS pada Rabu (8/4), itu akan menjadi peningkatan stok mingguan kelima berturut-turut di pusat penyimpanan dan peningkatan mingguan terbesar pada catatan sejak 2004. “Tangki penyimpanan global akan terus terisi dan begitu kapasitas penyimpanan tercapai, harga minyak bisa jatuh bebas,” ujar Edward Moya, analis pasar senior di OANDA New York.

“OPEC+ (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) mungkin memiliki beberapa bulan sebelum kapasitas penyimpanan global tercapai. Dengan begitu pengurangan produksi harus terjadi tidak peduli apapun,” ungkapnya.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, diperkirakan akan mengadakan konferensi video pada Kamis (9/4) untuk membahas pengurangan produksi minyak. Konferensi video OPEC + yang dijadwalkan untuk Senin telah ditunda hingga Kamis dan penundaan berkontribusi pada ketidakpastian di pasar tentang prospek pengurangan produksi, para ahli mencatat.

Harga minyak anjlok ke posisi terendah multi-tahun setelah OPEC+ gagal menyepakati pengurangan produksi baru di Wina bulan lalu. Kondisi ini di bberapa negara menyebabkan jatuhnya pasar keuangan global. (Ant/AS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *