Harga Minyak Dunia Jatuh, Permintaan Melemah

0
(0)

Jakarta – Harga minyak di pasar global jatuh di atas tiga persen pada akhir perdagangan Kamis (1/10) atau Jumat (2/10) pagi WIB. Jatuhnya harga minyak ini karena seluruh dunia mengurangi prospek permintaan, dan adanya kenaikan produksi OPEC bulan lalu.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember merosot 1,37 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi menetap di 40,93 dolar AS per barel setelah turun ke level terendah 39,92 dolar AS.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), berakhir jatuh 1,50 dolar AS atau 3,7 persen menjadi 38,72 dolar AS setelah tergelincir lebih dari enam persen ke terendah sesi 37,61 dolar AS per barel.

“Telah terbukti bahwa virus tersebut belum dapat dibendung. Tingkat infeksi meningkat, angka kematian global telah melampaui angka satu juta dan dunia kembali menjadi tempat yang suram,” kata analis PVM Oil, Tamas Varga.

Analis Standard Chartered mengatakan mereka sekarang memperkirakan permintaan global turun 9,03 juta barel per hari pada 2020 dan pulih 5,57 juta barel per hari pada 2021, meninggalkan rata-rata 2021 sedikit di bawah rata-rata 2016.

“Perdagangan hari ini mengirimkan beberapa getaran bearish yang kuat mengingat aksi jual di seluruh kompleks energi yang berkembang, meskipun ada peningkatan signifikan dalam selera risiko dan melemahnya dolar AS,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Peningkatan pasokan minyak dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga membebani pasar, dengan produksi pada September naik 160.000 barel per hari (bph) dari Agustus. Peningkatan tersebut sebagian besar didukung oleh kenaikan pasokan dari Libya dan Iran, keduanya dibebaskan dari pakta pasokan minyak antara OPEC dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+.

Produksi minyak Libya telah meningkat menjadi 270.000 barel per hari karena anggota OPEC itu meningkatkan aktivitas ekspor menyusul pelonggaran blokade oleh pasukan timur, sumber minyak Libya mengatakan kepada Reuters, Kamis (1/10).

“Barel baru Libya, dan laporan bahwa Rusia telah memproduksi secara berlebihan, mengalami kenaikan di awal minggu. Laporan hari ini bahwa Arab Saudi telah meningkatkan ekspor pada September sebesar 500.000 barel per hari tampaknya menjadi yang terakhir,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Anggota OPEC mengirimkan 18,2 juta barel per hari pada September, naik dari 17,53 juta barel per hari yang diekspor pada Agustus, data dari IHS Markit Commodities at Sea menunjukkan, dengan ekspor Arab Saudi kembali ke tingkat di atas 6,25 juta barel per hari.(Ant)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Waspada, Lumajang Zona Merah Corona

Fri Oct 2 , 2020
Post Views: 0 0 (0) Surabaya – Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masuk zona merah atau berisiko tinggi penyebaran COVID-19. Hingga kini jumlah pasien terkonfirmasi positif mencapai 519 orang, dengan rincian yang dirawat 149 orang, sembuh 328 orang, dan meninggal 42 orang hingga Kamis malam. “Kami sudah melakukan beberapa langkah untuk […]