Gubernur Anies Akan Tarik ‘Rem Darurat’ Jika Kasus Covid-19 Tidak Terkendali

0
(0)

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mewanti-wanti masyarakat lebih waspada dan lebih disiplin setelah mengumumkan bahwa positivity rate di Jakarta melonjak hingga dua kali lipat menjadi 10,5 pesen.

Padahal, lanjut dia, beberapa pekan sebelumnya positivity rate di ibu kota tidak pernah melebihi 5 persen.

Catatan Pemprov DKI menunjukkan pada pekan pertama Juli 2020 positivity rate di Jakarta yakni 4,8 persen dari total 34 ribu orang yang dites selama sepekan.

Pada 25 Juni hingga 1 Juli 2020 positivity rate di Jakarta sebesar 3,9 persen dari total 31 ribu orang yang dites.

Positivity rate tersebut terus meningkat jika dibandingkan pada 11-17 Juni 2020, angkanya berkisar 3,1 persen dari total 27 ribu orang yang dites.

“Ingatkan kepada semua jangan sampai situasi ini berjalan terus, sehingga kita harus menarik rem darurat atau emergency brake,” kata Anies.

Kebijakan rem darurat merupakan langkah yang mungkin diambil pemerintah untuk kembali menghentikan aktivitas sosial dan ekonomi karena penularan Covid-19 kembali memburuk.

“Karena itu, saya secara khusus menyampaikan kepada masyarakat Jakarta, jangan anggap enteng, jangan merasa kita sudah terbebas dari wabah Covid-19,” sambung dia.

Klaster terbesar Covid-19 di Jakarta berasal dari pasien rumah sakit (45,26 persen) dan di komunitas (38 persen).

Dari klaster komunitas, Pemprov DKI mencatat kasus terbesar ditemukan di pasar (68 persen), kemudian dari pekerja migran (5,8 persen) dan sisanya dari perkantoran.

Masyarakat Tidak Taat Protokol Kesehatan

Epidemiolog asal Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan peningkatan kasus juga dipicu oleh perilaku masyarakat yang tidak taat protokol kesehatan.

Situasi saat ini, lanjut dia, menunjukkan bahwa DKI Jakarta belum bisa melangkah ke fase transisi yang lebih longgar lagi.

“Artinya tetap dengan komposisi seperti ini dimana aktivitas hanya 50 persen kapasitas, jangan ada lagi yang dibuka, sekolah jangan dulu dibuka,” kata Pandu kepada Anadolu Agency.

Pandu menuturkan masa transisi telah meningkatkan kemungkinan penambahan kasus, padahal semestinya potensi itu bisa ditekan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Sayangnya, dia menilai pesan dan sosialisasi pemerintah mengenai protokol kesehatan pada era kenormalan baru belum dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat.

Banyak masyarakat kembali beraktivitas seolah Covid-19 bukan lagi ancaman begitu PSBB dilonggarkan.

“Dari hasil survei, banyak masyarakat yang merasa tidak berisiko kena Covid-19, itu ditunjukkan dengan perilaku yang tidak disiplin menggunakan masker,” ujar dia.

Yang dimaksud Pandu ialah hasil survei Lapor Covid-19 -gerakan kolaborasi masyarakat- terhadap 154.471 responden di ibu kota.

Survei tersebut menyimpukan skor Risk Perception Index (RPI) warga Jakarta adalah sebesar 3.30 (dalam skala 5) dan masuk kategori “agak rendah”.

Secara keseluruhan, warga DKI Jakarta memiliki perilaku menjaga diri yang baik dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Namun di sisi lain, ada kecenderungan warga DKI menganggap remeh pandemi Covid-19 san sebagian besar responden percaya bahwa kemungkinan mereka tertular sangat kecil.

Hal itu berkorelasi dengan kondisi ekonomi di mana sebagian besar responden merasakan dampaknya secara signifikan sehingga memengaruhi persepsi mereka terhadap risiko Covid-19.

Atas temuan tersebut, Pandu menuturkan pemerintah perlu lebih berupaya menimbulkan kepedulian dan pemahaman masyarakat terhadap pandemi yang belum usai.

“Mungkin harus dibuatkan aturan dan ditegakkan secara ketat, seperti wajib pakai masker dan sanksinya diterapkan jika melanggar,” ujar dia. (EP/AA)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Covid-19 Masih Jadi Ancaman, Menpan RB Minta ASN Tak Menumpuk di Transportasi Umum

Wed Jul 15 , 2020
0 (0) Jakarta – Penyebaran Covid-19 di Tanah Air, khususnya di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan, masih menunjukkan tingkat penularan yang sangat signifikan. Karena itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo meminta semua aparatur sipil negara (ASN) berlokasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, […]