Tuesday, April 20

Gejala Aneh Pasien yang Meninggal Pasca Divaksin AstraZeneca

Seorang wanita warga negara Denmark berusia 60 tahun yang meninggal karena pembekuan darah setelah menerima vaksin COVID-19 dari AstraZeneca, memiliki gejala “sangat tidak biasa”.

Penilaian ini dikeluarkan Badan Obat Denmark pada Minggu malam, dikutip Reuters, Senin (15/3).

Dikatakan bahwa wanita tersebut memiliki jumlah trombosit dan gumpalan darah yang rendah di pembuluh kecil dan besar, serta terjadi pendarahan.

Program vaksinasi Eropa dinilai telah mengecewakan dalam dua minggu terakhir setelah adanya laporan bahwa penerima inokulasi AstraZeneca menderita pembekuan darah.

Badan Obat Eropa mengatakan tidak ada indikasi bahwa kejadian itu disebabkan oleh vaksinasi. Pernyataan serupa diungkapkan Organisasi Kesehatan Dunia pada hari Jumat.

AstraZeneca Plc mengatakan pada Minggu bahwa tinjauan data keamanan orang yang divaksinasi dengan vaksin COVID-19 tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko pembekuan darah.

Tinjauan AstraZeneca mencakup lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di Inggris dan Uni Eropa, dan dilakukan setelah otoritas kesehatan di beberapa negara menangguhkan penggunaan vaksinnya karena masalah pembekuan.

Peninjauan yang cermat terhadap semua data keamanan yang tersedia dari lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di Uni Eropa dan Inggris dengan Vaksin COVID-19 AstraZeneca, tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko emboli paru, trombosis vena dalam atau trombositopenia, dalam usia tertentu.

“Yakni, kelompok, jenis kelamin, kelompok atau di negara tertentu,” kata perusahaan itu.

Pihak berwenang di Irlandia , Denmark, Norwegia, Islandia, dan Belanda telah menangguhkan penggunaan vaksin karena masalah pembekuan, sementara Austria berhenti menggunakan serangkaian suntikan AstraZeneca minggu lalu saat menyelidiki kematian akibat gangguan koagulasi.

“Sangat disesalkan bahwa negara-negara telah menghentikan vaksinasi dengan alasan ‘kehati-hatian’. Itu berisiko menimbulkan kerugian nyata pada tujuan memvaksinasi cukup banyak orang untuk memperlambat penyebaran virus, dan untuk mengakhiri pandemi,” kata pensiunan Inggris, Peter English yang juga konsultan pemerintah dalam pengendalian penyakit menular.

Pihak perusahaan mengatakan pengujian tambahan telah dan sedang dilakukan oleh perusahaan dan otoritas kesehatan Eropa dan tidak ada tes ulang yang menunjukkan kekhawatiran.

“Itu sesuai laporan keamanan bulanan akan dipublikasikan di situs web EMA pada minggu berikutnya,” kata AstraZeneca.
Vaksin AstraZeneca, yang dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Oxford, telah diizinkan untuk digunakan di Uni Eropa dan banyak negara meski belum keluar regulator dari AS.

Perusahaan sedang mempersiapkan untuk mengajukan otorisasi penggunaan darurat AS dan mengharapkan data dari uji coba Fase III di AS akan tersedia dalam beberapa minggu mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *