DK PBB Diminta Bersidang Buntut Serangan ke Yaman

Jakarta – Sejumlah wilayah Indonesia memiliki dua kali musim hujan, sebagian lainnya memiliki dua kali musim kemarau. Sedangkan wilayah lainnya hanya satu kali musim hujan-kemarau, berdasarkan data zona musim BMKG.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatoligi, dan Geofisika (BMKG) Dr. A. Fachri Radjab masih memantau iklim tahun ini, 2024. BMKG, kata Fachri, membagi zona musim Indonesia karena iklim tidak dapat dilihat dari satu wilayah saja.

“Jadi, untuk menyesuaikan kondisi itu. Seluruh Indonesia ada sekitar 669 zona musim dan setiap zona itu berbeda-beda, terkait waktu awal musim, waktu pecah musim, dan waktu naik musim,” ucap Fachri kepada PRO3 RRI, Kamis (11/1/2024) petang.

Dia mengatakan, dibutuhkan kesiapsiagaan dari awal dalam menghadapi 669 zona musim di Indonesia. “Kalau sekarang, sebagian besar wilayah Indonesia masih musim hujan,” ujar dia.

“Tapi, nanti pada April-Mei adalah peralihan musim kemarau. Kita antisipasi dengan hujan yang masih ada di bulan itu untuk menampung air, misalnya, untuk menghadapi musim kemarau.”

Menurut dia, hal tersebut dapat dilakukan dengan belajar dari tahun 2023, karena terjadi musim kemarau yang panjang, atau El Nino. “Jadi, perbanyaklah menampung air, ketika masuk musim kemarau,” kata Fachri.

Dia juga menjelaskan fenomena alam diprediksi terjadi pada tahun 2024. “Jadi begini, El Nino itu ada pasangannya namanya La Nina,” kata Fachri.

Sebagai contoh, kata dia, tahun 2020, 2021, dan 2022 adalah tahun La Nina di Indonesia. “Indonesia lebih banyak hujan, lebih basah,” ujar Fachri.

“Tapi, 2023, (Indonesia, red) El Nino.” Dia mengatakan, BMKG saat ini masih memantau terkait La Nina atau El Nino akan terjadi tahun ini di Indonesia.

“Ini yang masih kami monitor terus. Tapi, dari pengamatan sekarang, masih relatif normal kondisinya, dalam fase netral istilahnya,” kata Fachri.

Sementara, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi tahun 2024 suhu udara akan lebih panas dari tahun 2023. Fachri menjelaskan prediksi WMO itu, juga berdasarkan pantauan langsung BMKG terkait iklim, khususnya di Indonesia.

“Jadi, fenomena El Nino itu memang terdeteksi dari pertengahan 2023 lalu. Dari prediksi BMKG dan beberapa badan meteorologi internasional, saat ini Januari, El Nino masih aktif,” ujar Fachri.

Namun, kata dia, El Nino akan meluruh pada Februari-Maret 2024. “Jadi, triwulan pertama 2024, sampai dengan Maret nanti, akan mulai melemah itu El Nino,” ucap dia.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *