Dilarang Dimakan, Kucing dan Anjing Kini Bisa Bernafas Lebih Lega di Cina

0
(0)

Jakarta – Orang Cina sejak lama diketahui suka mengkonsumsi aneka jenis hewan. Mulai kelelawar, trenggiling, ular, anjing, kucing, trenggiling, kodok dan hewan-hewan lainnya. Kini, setelah wabah virus yang diduga ditularkan melalui hewan, Cina mulai melakukan pelarangan konsumsi daging hewan.

Kota Shenzhen di Cina contohnya, kini mengambil langkah drastis dengan melarang konsumsi daging kucing dan anjing di tengah pandemi virus corona. Tapi konsumsi daging penyu dan kodok masih diperbolehkan.

“Anjing dan kucing sebagai hewan peliharaan memiliki hubungan yang sangat akrab dengan manusia dibandingkan hewan lainnya,” demikian pernyataan Pemerintah Shenzhen, mengutip ABC News, Sabtu(4/4).

Kota pesisir yang berjarak 1.100 kilometer dari kota Wuhan, tempat virus corona berasal, telah melarang warganya mengkonsumsi daging kucing dan anjing, sebagai upaya menghentikan perdagangan satwa liar sejak pandemi merebak di Cina.

Beberapa kasus corona paling awal ditemukan pada mereka yang terkait dengan pasar satwa liar di Wuhan, tempat kelelawar, ular, musang, dan hewan lainnya diperjualbelikan.

Pemerintah kota Shenzhen mengatakan larangan makan daging anjing dan kucing akan mulai berlaku pada 1 Mei mendatang.

“Melarang konsumsi daging anjing dan kucing serta hewan peliharaan lainnya sudah lazim diterapkan di negara-negara maju termasuk di Hong Kong dan Taiwan,” katanya.

“Larangan ini juga sebagai respon terjadap desakan dan semangat peradaban,” demikian pernyataan itu.

Pihak berwenang Cina pada akhir Februari lalu telah melarang perdagangan dan konsumsi hewan liar yang diduga penyebab penularan virus corona. Sejauh ini pemerintah provinsi dan kota telah berusaha menerapkan keputusan tersebut, namun Pemerintah Shenzhen yang paling eksplisit memperluas larangan itu ke hewan peliharaan.

Menurut Liu Jianping dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Shenzhen, unggas, ternak, dan hasil laut sangat banyak tersedia bagi konsumen.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dahging satwa liar lebih bergizi daripada daging unggas dan ternak,” kata Liu seperti dikutip media pemerintah Shenzhen Daily.

Larangan yang pertama kali diusulkan pada akhir Februari sebenarnya juga mencakup daging penyu dan kodok, yang sering dihidangkan di wilayah Cina selatan.

Tetapi pekan ini, pemerintah Shenzhen mengakui daging kedua hewan tersebut merupakan “bahan perdebatan terpanas”, sehingga akhirnya tetap diperbolehkan untuk dimakan.

Kampanye kota untuk menghentikan makan satwa liar telah mendapat pujian dari kelompok kesejahteraan hewan.

“Shenzhen adalah kota pertama di dunia yang menganggap serius pelajaran dari pandemi ini. Mereka melakukan perubahan untuk menghindari pandemi lainnya,” ujar Teresa M. Telecky dari LSM Humane Society International.

“Langkah berani yang diambil Pemerintah Shenzhen untuk menghentikan perdagangan dan konsumsi satwa liar merupakan model yang patut ditiru di seluruh dunia,” katanya. (in)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Pertama Kali PBB Setujui Resolusi Usulan Indonesia terkait Covid-19

Sat Apr 4 , 2020
Post Views: 0 0 (0) New York – Indonesia bersama dengan Ghana, Liechtenstein, Norwegia, Singapura dan Swiss telah mengajukan resolusi ke Majelis Umum PBB bertajuk “Global Solidarity to Fight COVID-19“. Resolusi tersebut diputuskan secara aklamasi pada 2 April 2020 di Markas Besar PBB di New York. Resolusi ini adalah produk […]