Covid-19 Ungkap Kerapuhan Masyarakat dan Mendorong 100 Juta Orang Jatuh ke Jurang Kemiskinan

0
(0)

Jenewa – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada Sabtu (18/7), bahwa virus corona mengungkapkan kerapuhan masyarakat dunia, dan dapat mendorong 100 juta manusia ke dalam kemiskinan ekstrem.

Dilansir Arab News, berbicara pada peringatan ulang tahun ke-102 almarhum Nelson Mandela, presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, Guterres mengatakan virus corona bersinar menjadi sorotan pada ketidakadilan global.

“Kami berlutut oleh virus mikroskopis. Pandemi menunjukkan kerapuhan dunia kita,” kata Guterres. “Seluruh wilayah yang membuat kemajuan dalam memberantas kemiskinan dan mempersempit ketidaksetaraan, menjadi mundur bertahun-tahun, dalam hitungan bulan.”

Guterres melanjutkan, dampak ekonomi dari pandemi ini, yang menginfeksi lebih dari 14 juta dan membunuh lebih dari 600.000 orang di seluruh dunia, secara tidak proporsional dirasakan di kalangan pekerja informal, usaha kecil, dan perempuan.

“Kami menghadapi resesi global terburuk sejak Perang Dunia II,” lanjutnya. “Seratus juta lebih orang dapat didorong ke dalam kemiskinan ekstrem. Kita akan melihat kelaparan terburuk sepanjang bersejarah. ”

Sekjen PBB itu juga menyoroti penyediaan perawatan kesehatan yang tidak merata, pekerjaan medis yang tidak dibayar, perbedaan pendapatan, dan perubahan iklim sebagai beberapa masalah yang belum terselesaikan.

“Virus corona adalah x-ray yang bisa menunjukkan patah tulang dalam kerangka rapuh dari masyarakat yang kita bangun,” tambahnya. “Ini mengungkap kekeliruan dan kepalsuan di mana-mana. Khayalan bahwa kita hidup di dunia pasca-rasis. Mitos bahwa kita semua berada di kapal yang sama.”

Dia mengungkapkan bahwa 26 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan sebanyak setengah dari populasi global. “Tapi pendapatan, gaji, dan kekayaan bukan satu-satunya ukuran ketidaksetaraan,” tambahnya.

Guterres mengatakan bahwa orang-orang kehabisan kesabaran pada perbedaan mencolok dan diskriminasi di seluruh masyarakat. Dia menunjuk gerakan anti-rasisme global yang dipicu oleh kematian George Floyd hanya sebagai satu lagi tanda bahwa orang sudah merasa cukup dan muak dengan ketidaksetaraan dan diskriminasi. (Aza)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Jumlah Infeksi Virus Masih Fantastis, Bukti Kehidupan Normal Masih Jauh

Sun Jul 19 , 2020
0 (0) Johannesburg – Afrika Selatan pada Sabtu (18/7), menjadi salah satu dari lima negara paling terparah dalam pandemi virus corona. Bukan cuma Afrika Selatan, angka infeksi baru yang mengkhawatirkan di seluruh dunia adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kembali ke kehidupan normal masih jauh dari pandangan. Sebanyak 350.879 kasus […]