Covid-19 Terus Melesat, Epidemiolog Ingatkan Pemerintah Hati-hati Terapkan New Normal

0
(0)

Jakarta – Pemberlakuan kenormalan baru (new normal) di tengah kasus Covid-19 terus melesat harus ekstra hati-hati. Enam syarat protokol kesehatan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus menjadi acuan dalam implementasi kenormalan baru di berbagai sektor.

Kriteria yang pertama adalah negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan. Bila mengacu pada angka reproduksi (R0), situasi bisa dikatakan terkendali bila angka R0 di bawah 1.

Kriteria yang kedua adalah sistem kesehatan yang ada sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Sistem kesehatan ini mencakup rumah sakit hingga peralatan medis.

Kriteria yang ketiga adalah risiko wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi. Utamanya adalah di panti wreda, fasilitas kesehatan mental, serta kawasan pemukiman yang padat.

Kriteria yang keempat adalah penetapan langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja. Ridwan memaparkan, langkah-langkah pencegahan ini meliputi penerapan jaga jarak fisik, ketersediaan fasilitas cuci tangan, dan penerapan etika pernapasan seperti penggunaan masker.

Kriteria kelima adalah risiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus bisa dikendalikan. Sedangkan kriteria yang keenam adalah masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new normal.

“New normal kan menandai kebijakan politik untuk melakukan pelonggaran atas kebijakan PSBB, ya sebaiknya berdasarkan enam syarat yang dianjurkan WHO, intinya agar tidak terjadi lonjakan kasus yang tidak bisa ditangani fasilitas kesehatan,” kata epidemiolog, Syahrizal Syarief kepada Indonesiainside.id, Jumat (12/6).

Sementara, kondisi saat ini dia menilai Indonesia masih berfluktuasi. “Kalau dilihat dalam ukuran mingguan, gambaran kasus rata-rata mingguan naik turun, belum stabil,” ujarnya.

Mengenai prediksi pandemi ini akan berakhir, pengurus pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) tak jauh berbeda pandangannya seperti epidemiolog lain. Pandemi akan melandai di akhir bulan jaki jika masyarakat patut terhadap protokol kesehatan dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Iya tinggal dilihat saja kenyataan di lapangan. Melihat situasi kasus dan tingkat pelonggaran yang sekarang terjadi, kita siap-siap saja dengan situasi yang fluktuatif dan lama, apalagi kurva rata-rata mingguan DKI mencapai angka tertinggi,” katanya. (Msh)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

2.750 Pasien Sembuh di Wisma Atlet, 579 Orang Masih Dirawat

Sat Jun 13 , 2020
0 (0) Jakarta – Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, mencatat jumlah pasien Covid-19 yang sembuh sampai 12 Juni 2020 telah mencapai 2.750 orang. Sebanyak 579 orang masih dirawat. Perwira Penerangan Kogabwilhan I Kolonel Marinir Aris Mudian mengatakan, jumlah pasien sembuh merupakan akumulasi dari pencatatan sejak 23 Maret […]