China Klaim Batik sebagai Seni Tradisional Tiongkok, Netizen Indonesia Berang

0
(0)

Jakarta – Ketika kantor berita pemerintah China, Xinhua, memposting klip video pekan lalu yang mengklaim batik sebagai bentuk seni tradisional Tiongkok. Warga Indonesia sontak menanggapi dengan kemarahan di media sosial, dengan beberapa orang menuduh Beijing melakukan perampasan budaya.

Dalam tweet pada 12 Juli, kantor berita Xinhua melaporkan bahwa batik adalah kerajinan tradisional yang umum di antara kelompok etnis di China, dan berkembang di zaman modern, yang dipraktikkan oleh kelompok etnis minoritas di Guizhou dan Yunnan.

Tuit kemudian berakhir dengan tagar #AmazingChina, dan klip berdurasi 49 detik yang menunjukkan bagaimana pola pada kain diproses itu di-retuit dan disukai ribuan kali.

Namun, para ahli mengatakan klaim itu jauh dari kebenaran. “Batik adalah terminologi khas Indonesia. Dalam hal etimologi, saya tidak berpikir ada kata-kata dan pengucapan seperti batik dalam dialek China,” kata Agni Malagina, seorang peneliti urusan Indonesia-China, kepada Arab News pada Sabtu (18/7).

Setelah tuit itu, netizen membanjiri media sosial untuk mendidik China tentang asal kata batik. Beberapa orang menjelaskan bahwa itu diciptakan dari kata Jawa “amba” dan “tik,” yang berarti menandai atau menggambar titik-titik.

“China harus menjadi negara dengan kebanggaan, bukan hanya untuk menyalin dan mengklaim milik negara lain,” kata seorang netizen bernama Kiki.

“Ini benar-benar batik palsu. Desainnya sangat mendasar dan sederhana. Satu-satunya hal asli yang keluar dari Tiongkok adalah Covid-19, virus China,” pernyataan kasar @mpuanon, salah seorang pengguna Twitter.

Proses membatik juga termasuk menggambar pada bintik-bintik, diikuti oleh aplikasi lilin pada kain dengan menggunakan canting. “Canting itu sendiri adalah alat khas Indonesia,” kata Malagina, yang menambahkan bahwa meskipun teknik pewarnaan tangan pada kain menggunakan lilin juga ditemukan dalam budaya lain, batik sebagai sepotong kain digunakan secara luas dalam berbagai konteks sosial dan ritual peralihan di Indonesia, dari kelahiran dan pernikahan, hingga kematian.

Malagina menambahkan bahwa beberapa motif membawa makna filosofis dan dipakai untuk acara-acara khusus, termasuk pernikahan. “Misalnya, motif truntum mewakili cinta tanpa syarat dan tahan lama. Ini dipakai oleh orang tua memepelai wanita dan pria selama upacara pernikahan, sebagai simbol cinta abadi untuk anak-anak mereka,” jelas Malagina, seraya menambahkan bahwa motif yang berbeda juga mewakili daerah yang berbeda.

Batik yang diproduksi oleh daerah-daerah di pantai utara Jawa, tempat China dan pendatang asing lainnya datang pada zaman kuno, cenderung memiliki warna-warna cerah, dengan warna merah mewakili pengaruh China dan biru mewakili pengaruh Eropa.

Sebaliknya, batik yang diproduksi dari daerah pedalaman, rumah kuno kerajaan Jawa, cenderung memiliki warna bersahaja. “Inilah yang membuat batik menjadi warisan budaya Indonesia,” kata Malagina, yang dilansir Arab News.

Menyadari nilai budaya seni, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai “Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Kemanusiaan” pada 2 Oktober 2009, dengan tanggal yang diperingati sebagai Hari Batik Nasional sejak saat itu.

Setelah keributan tentang klaim Xinhua, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengakhiri kontroversi dengan dua tweet pada 13 Juli, menjelaskan bahwa batik adalah warisan leluhur dan dihargai dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Kantor berita Xinhua akhirnya mengakui kesalahan, dan merevisi tweet mereka. “Kerajinan pencetakan lilin Tiongkok kuno sangat terampil dan memakan waktu. Kerajinan ini juga dikenal sebagai batik, sebuah kata yang berasal dari Indonesia yang mengacu pada teknik pewarnaan tahan lilin yang dipraktikkan di banyak bagian dunia.” (Aza)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Warga Melbourne Diwajibkan Memakai Masker atau Denda Rp 2 Juta

Mon Jul 20 , 2020
0 (0) Melbourne–Kota terbesar kedua di Australia hari ini mengumumkan akan mewajibkan penduduknya untuk mengenakan masker di tenpat umum. Tindakan ini diambil dalam upaya untuk mengekang penyebaran pandemi Covid-19. Pihak berwenang mengatakan Melbourne, yang berlokasi di Victoria, saat ini mencatat hampir 3.000 kasus Covid-19 aktif setelah 363 infeksi lainnya dilaporkan […]