by

BPS Catat Inflasi Tahunan Juli 2022 4,94 Persen

Jakarta: Badan Pusat Statistik mencatat, laju inflasi bulan Juni 2022 secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 4,94 persen.

laju inflasi sebesar 0,64 persen, meningkat dibandingkan inflasi Juni 2021 yang besarnya 0,61 persen.

Sedangkan inflasi tahun kalender dari Januari-Juli 2022 tercatat sebesar 3,85 persen.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, inflasi tahunan pada bulan ini menjadi inflasi tertinggi sejak Oktober 2015. Kala itu, inflasinya tercatat sebesar 6,25 persen.

“Kalau kita lihat, penyumbang utama inflasi di bulan Juli ini antara lain karena kenaikan harga cabai merah, tarif angkutan udara, bawang merah, bahan bakar rumah tangga dan cabai rawit,” kata Margo saat menyampaikan perkembangan laju inflasi Juli 2022, Senin (1/8/2022).

Di bulan Juli 2022, hampir semua kota yang dipantau (90 kota) mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kendari, dengan inflasi sebesar 2,27 persen.

Inflasi terendah terjadi di Pematang Siantara, dengan inflasi sebesar 0,04 persen. Dari sisi komponen inflasi, semua komponen juga mengalami kenaikan inflasi.

Inflasi harga bergejolak di bulan Juli 2022 mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 1,41 persen.Hal itu disebabkan kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.

“Penyebabnya lebih karena faktor cuaca. Dimana terjadi curah hujan tinggi di sentra-sentra produksi, seperti di Cianjur, Brebes dan Banjarnegara,” ujarnya.

Komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) inflasinya di bulan Juli sebesar 1,17 persen. Karena kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, kenaikan tarif angkutan udara yang dipicu kenaikan harga avtur, serta kenaikan tarif listrik .

Komponen inflasi inti, yang terdiri dari 700 komoditas, inflasinya tercatat 0,28 perse di bulan Juli 2022, dan inflasi tahunannya sebesar 2,85 persen.

“Inflasi tahunan di Indonesia secara year on year (tahunan) mengalami peningkatan yang resistant sepanjang tahun 2022. Tapi jika dibandingkan beberapa negara, inflasi kita masih lebih baik. Dibawah kita ada Tiongkok,” ucapnya.

Menurut BPS, laju inflasi Indonesia masih aman, karena inflasi inti sebesar 2,85 persen relatif masih rendah.

“Ini menggambarkan fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Dibandingkan inflasi di negara-negara G20 utamanya, inflasi kita masih rendah,” katanya, melanjutkan.

Margo mengatakan, inflasi inti di Indonesia masih rendah karena inflasi pangan lebih karena gangguan suplai domestik akibat kondisi cuaca. Sedangkan inflasi dari sektor energi, diredam melalui mekanisme subsidi.

“Apalah inflasi inti berpotensi mengalami kenaikan, sangat tergantung dengan kebijakan pemerintah dalam merespon kenaikan harga pangan dan energi melalui kebijakan fiskal maupun moneternya,” ujarnya.