Belajar dari Rumah, Hasil Survei KPAI: 56,6 Persen Tak Bersedia Bayar SPP

0
(0)

Jakarta – Mayoritas siswa yang disurvei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tidak bersedia membayar SPP atau iuran pendidikan. Sebanyak 56,6 persen responden menolak karena proses pembelajaran dilakukan di rumah atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Para responden menginginkan adanya pengurangan uang SPP (iuran pendidikan) bulanan karena orang tua mereka juga terdampak Covid-19 sehingga terjadi penurunan penghasilan. Bahkan ada yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja(PHK),” kata Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti, Senin (27/4).

Selain itu, para responden juga berargumentasi biaya operasional sekolah seperti listrik dan air juga berkurang karena tidak ada kegiatan lagi di sekolah. Adapun hasil servei sebagai berikut, tidak bersedia membayar SPP sebanyak 56,6 persen, membayar utuh 29,1 persen, dan usul membayar separuh sebanyak 14,3 persen.

KPAI menerima 246 pengaduan mengenai pelaksanaan PJJ. Mayoritas pengaduan berbanding lurus dengan hasil kajian bidang pendidikan KPAI tentang penerapan PJJ dengan jumlah responden mencapai 1.700 siswa.

Kajian dimulai pada Senin (13/4) dan berakhir pada Senin (20/4), namun ketika batas waktu pengisian kuisioner habis, ternyata masih banyak siswa yang ingin mengisi kuisioner PJJ KPAI. Para responden berasal dari 20 provinsi dan 54 kabupaten atau kota.

Kajian tersebut bersifat survei dengan menggunakan metode deskriptif kuatitatif. Survei dilaksanakan dengan teknik multistage random sampling.

Adapun teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner yang diberikan menggunakan aplikasi google forms kepada 246 pengadu sebagai responden utama dan 1700 responden pembanding. Dari 1.700 siswa yang menjadi rsponden survey PJJ KPAI juga termasuk para pengadu PJJ yang 246 siswa tersebut.

“Tujuan Survei adalah untuk mengetahui persepsi siswa tentang pelaksanaan PJJ dan Hasil Survei Akan digunakan KPAI untuk melakukan advokasi kebijakan PJJ dan sistem kenaikan kelas di era pandemic Covid -19,” ungkapnya. (ASF)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Pengamat: Harga BBM di Indonesia Harusnya Rp2.000 per Liter

Tue Apr 28 , 2020
0 (0) Jakarta – Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyebut harga minyak mentah di dunia (crude) terus turun secara signifikan belakangan ini. Bahkan pernah di bawah USD per barel (negatif). Harga minyak brent juga ikut turun sekira USD22 per barel atau ICP sekitar USD21 per barel atau sekitar Rp322.560 per […]