Bantuan Kemanusiaan di Tengah Perang Hamas-Israel

Jakarta – jelang terbenamnya matahari militer Israel kembali menembakkan sejumlah roketnya ke kawasan di Jalur Gaza, Senin (9/101/2023). Laporan langsung reporter Al Jazeera dari lokasi belum dapat memastikan berapa jumlah korban yang diperkirakan meningkat.

Sebelumnya, pejabat di Gaza melaporkan sedikitnya 560 warga Palestina meninggal di wilayah pesisir berpenduduk sekitar 2,3 juta orang. Sementara lebih dari 2.750 orang terluka, sebagaimana dilaporkan The New Arab.

Di pihak lain setidaknya 800 warga Israel terbunuh sejauh ini, menurut media Israel pada Senin sore. Tidak kurang 2.506 warga Israel terkena dampak serangan Hamas, menurut Kementerian Kesehatan Israel.

Dari jumlah tersebut, 353 orang mengalami luka serius dan 486 menderita luka sedang. Israel membuktikan ‘pengepungan total’ wilayah kantong tersebut yang diserukan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant.

Tentara Israel mengatakan pihaknya menyerang lebih dari 500 sasaran di Jalur Gaza. Sementara, pertempuran Hamas-Israel terus berlanjut di tujuh atau delapan lokasi di Israel dekat daerah Gaza.

Pertempuran ini terjadi dua hari setelah Hamas meluncurkan rentetan roket dan mengirimkan pejuang-pejuangnya yang menyandera sedikitnya 100 orang. Serangan besar-besaran yang dilakukan dari darat, laut, dan udara mengejutkan Israel.

“Kami memerangi dan mengambil tindakan yang sesuai,” kata Gallant dalam bahasa Ibrani dalam pesan video yang diposting ke X, ketika Israel memutus semua pasokan ke Gaza.

Untuk menjalankan operasi ini, pasukan cadangan Israel-Prancis di Prancis dikabarkan menuju Tel Aviv untuk bergabung dengan tentara Israel. Mengutip Anadolu Agency, tentara cadangan Prancis-Israel mulai melakukan pemesanan penerbangan sedini mungkin, menurut stasiun penyiaran Perancis BFMTV.

Reuters melaporkan militer Israel mengerahkan 300 ribu tentara cadangan dan memberlakukan blokade total terhadap Jalur Gaza. Ini menjadi sinyal rencana serangan darat besar-besaran untuk mengalahkan Hamas.

Hingga memasuki malam, kawasan Jabalia, Gaza, menjadi kawasan terparah akibat serangan Israel yang disorot media. Suara bombardir dari roket-roket yang dijatuhkan Israel menyebar di banyak tempat.

Gedung-gedung permukiman warga yang gelap karena tidak ada listrik, tampak diterangi cahaya api akibat serangan roket. Ini menyulut respons sayap militer Hamas atas serangan-serangan yang menyasar ke sejumlah korban dan infratruktur sipil.

Hamas mengecam serangan tanpa pandang bulu Israel, seperti membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dan tawanan perang. Sementara, Hamas mengklaim pihaknya tidak melakukan hal tersebut.

“Karena musuh kami tidak memahami nilai-nilai atau etika, maka kami akan berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengakhiri ini,” kata juru bicara sayap militer Hamas Brigade Izzudin al-Qassam Abu Ubaidah yang disiarkan Al Jazeera.

“Mulai detik ini, kami mengumumkan bahwa setiap penargetan warga sipil yang tidak bersalah tanpa peringatan, akan ditanggapi, dengan sangat menyesal, dengan mengeksekusi salah satu sandera dalam tahanan kami,” kata Abu Ubaidah.

Eskalasi yang terjadi di kawasan Palestina dan Israel menyulut perhatian PBB. Sekjen PBB António Guterres menyesalkan terjadinya konflik bersenjata terbaru di kawasan ini.

“Saya mengakui keluhan yang sah dari rakyat Palestina. Namun, tidak ada yang bisa membenarkan tindakan teror dan pembunuhan yang melukai warga sipil,” kata Guterres.

Guterres menyerukan pembebasan seluruh sandera. Namun, di sisi lain, ia juga prihatin dengan serangan-serangan udara Israel yang melanda Gaza.

“Saya sangat khawatir dengan laporan mengenai lebih dari 500 warga Palestina termasuk wanita dan anak-anak. Sayangnya jumlah ini terus bertambah seiring dengan berlanjutnya operasi Israel, sementara saya mengakui kekhawatiran sah Israel terhadap keamanan,” katanya.

“Saya juga mengingatkan Israel bahwa operasi militer harus dilakukan sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Warga sipil harus dihormati dan dilindungi setiap saat. Jangan pernah menjadi target,” ujar Gutteres menegaskan.

Ia menyesalkan laporan yang menyebutkan fasilitas permukiman, gedung tempat tinggal, masjid, hingga sekolah-sekolah menjadi sasaran rudal Israel. Ia merasa sangat tertekan dengan pengumuman Israel yang akan memulai pengepungan total Jalur Gaza.

Ia mendesak Israel menyediakan akses bagi bantuan kemanusiaan dan menyerukan komunitas internasional mulai memobilisasi bantuan kemanusiaan. Menurutnya, tidak boleh ada masyarakat yang dibiarkan tanpa listrik, peralatan medis, makanan, atau bahan bakar.

“Kekerasan terbaru ini tidak muncul begitu saja. Kenyataannya adalah kekerasan ini tumbuh dari konflik yang sudah berlangsung lama dengan pendudukan selama 56 tahun dan tidak ada target politik,” katanya.

“Ini saatnya mengakhiri lingkaran setan pertumpahan darah, kebencian, dan polarisasi. Israel harus mewujudkan kebutuhan sahnya akan keamanan dan rakyat Palestina harus memperoleh perspektif yang jelas untuk mendirikan negaranya sendiri,” ujar Gutteres lagi.

Menurutnya, resolusi dua negara menjadi satu-satunya jalan keluar dari konflik lama ini. Sejalan dengan perhatian PBB, Indonesia juga menyatakan keprihatinannya atas konflik terbaru Palestina-Israel.

“Indonesia sangat prihatin dengan meningkatnya eskalasi konflik antara Palestina-Israel. Indonesia mendesak agar tindakan kekerasan segera dihentikan, untuk menghindari semakin bertambahnya korban manusia,” tulis keterangan resmi Kementerian Luar Negeri dalam cuitan di twitter, Minggu (8/10/2023).

Ormas Islam terbesar Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) juga menyerukan segera dihentikannya perang antara Hamas Palestina dengan Israel. Ia mengkhawatirkan eskalasi konflik tersebut kian meningkat di Jalur Gaza.

“Kepada seluruh pihak terkait dan masyarakat internasional untuk bertindak dengan langkah tepat. Hentikan kekerasan di wilayah keduanya,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (9/10/2023).

“Masyarakat internasional harus bertindak dengan langkah-langkah yang lebih tegas (decisive). Selain itu, masyarakat internasional juga harus mengambil kesepakatan-kesepakatan internasional yang ada atas masalah Israel dan Palestina,” ujar Yahya.

Menyikapi perkembangan terkini, Kemlu juga mengeluarkan imbauan kepada para WNI yang tengah berada di kedua negara berkonflik. Mereka diminta segera meninggalkan wilayah tersebut.

“Menimbang situasi keamanan terakhir dan demi keselamatan para WNI, Pemerintah Indonesia mengimbau agar WNI yang berada di wilayah Palestina maupun Israel segera meninggalkan wilayah tersebut. Dan, bagi yang sudah merencanakan perjalanan ke kedua wilayah tersebut untuk membatalkan rencananya hingga adanya pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah,” tulis Kemlu dalam keterangan tertulis, Selasa (10/10/2023).

Sebelumnya, pada Sabtu (7/10/2023) pagi, pukul 06.30, Hamas melakukan serangan mendadak terhadap Israel. Serangan tersebut menggabungkan peluncuran roket dan inflitrasi pejuang Hamas ke kawasan Israel di sekitar Gaza.

Serangan tersebut dilakukan melalui darat, udara, dan laut. Hamas mengatakan pihaknya menembakkan 5.000 roket dalam serangan pertama.

Militer Israel mengatakan 2.500 roket ditembakkan. Eskalasi kemudian meningkat dengan Israel mencoba membalikkan keadaan dengan menyerang balik pejuang Hamas dan kawasan hunian Gaza.

Selanjutnya Silakan Baca Berita Kami Di GoogleNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *