Monday, May 10

Ayo Rasakan Citarasa Nasi Minyak ‘Haji Abuk’

Palembang: Kota Palembang adalah kota dengan seribu kuliner berlimpah. Banyak varian kuliner bisa ditemui jika berkunjung ke kota pusat Kerajaan Sriwijaya ini. Kota yang penuh bersahabat dengan motto warganya “Wong Kito Galo” ini, menyimpan beribu cita rasa dalam hal kulinernya. Tidak hanya, pempek, model, laksan, burgo dan celimpungan, olahan nasi minyaknya juga cukup menggoga selera.

Nasi Minyak merupakan makanan khas Sumatera Selatan yang dulunya hanya disajikan untuk keluarga sultan, dikarenakan hidangan ini dianggap mewah pada masa itu.

Nama nasi minyak ini sesuai dengan cara masaknya yang dimasak dengan minyak samin dan rempah rempah khas negara di timur tengah, jadi bisa dibilang nasi minyak khas palembang ini mendapat pengaruh dari kuliner timur tengah yang merupakan percampuran budaya bangsa melayu dan arab pada masa itu.

Warung H Abuk, menjadi kedai yang direkomendasikan banyak orang untuk menikmati kuliner dengan jenis nasi minyak ini. Sebuah warung sederhana yang terletak di kawasan Pasar Kuto Palembang, sebuah kawasan yang didominasi keturunan Arab di Palembang.

Warung Nasi Minyak H. Abuk ini memiliki 2 cabang di Palembang yaitu di Jalan Dr. M Isa no 823 Pasar Kuto, Palembang atau di Jalan MP Mangkunegara no 9A Bukit kecil, Palembang. Jika di cabang pasar kuto buka sampai jam 8 malam dan dicabang satunya hanya sampai jam 5 sore. Atau kamu juga bisa memesan via Gojek.

Jika kita berkunjung dan berkesempatan untuk makan di Warung Wak Abuk, maka yang pertama hadir adalah nasi minyaknya.

Aroma harum akan langsung menyergap indera penciuman kita. Aroma yang hampir serupa jika kita menikmati sajian nasi kebuli. Untuk menyantap nasi minyak Wak Abuk, sajian nasi minyak akan diiringi dengan enam piring kecil yang masing-masing berisi: malbi, kari kambing, sate pentol, gulai tunjang, ayam goreng dan burung punai (puyuh) goreng. Tersaji pula dua piring lainnya yang berisi sambal nanas dan acar timun/wortel.

Mabli, sejenis semur daging khas Palembang, dengan cita rasa manis tapi memiliki aroma rempah yang kuat. Bumbu manisnya meresap ke dalam potongan daging sapi yang menjadi bahan utamanya.

Kedua, burung goreng, ukuran burung yang kecil membuat tekstur dagingnya renyah karena digoreng kering dengan cita rasa gurih layaknya ayam goreng bumbu kuning. Yang ketiga sate pentol, seperti perkedel yang dibuat dari daging cincang dan sayur-sayuran namun ditusuk dengan lidi.

Yang terakhir, sebagai mitra nasi minyak yang tak boleh ditinggalkan yaitu sambal nanas. Sambal yang disajikan memang special, sambal dibuat selalu baru dengan nanas segar.

Adalagi parian yang berupa tiga hidangan lainnya seperti kari kambing dengan bumbu kari yang “kearab-araban”.

Daging kambingnya empuk dan tak berbau, di dalam kuah kental kari yang gurih. Atau gulai tunjang dengan daging kikil yang tebal nan mempesona. Juga ayam goreng yang dari ukurannya tampaknya dari ayam kampung dan digoreng kering dengan taburan bumbu serundeng di atasnya.

Soal harga, dijamin murah, karena seluruh menu yang ada di sini dipatok cukup murah, banyangkan untuk nasi minyaknya saja diharga Rp12 ribu per porsinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *