by

AS Tembus 700.000 Meninggal COVID-19

Washington: Amerika Serikat melampaui angka 700.000 meninggal akibat virus corona pada Jumat malam (1/10/2021), setengah dari jumlah tersebut datang dalam sembilan bulan terakhir ketika varian delta mendorong lonjakan brutal di banyak negara.

AS hanya perlu tiga setengah bulan bergerak dari angka 600.000 kematian pada bulan Juni dan akhirnya mencapai angka 700.000 meninggal didorong varian yang merajalela ke masyarakat AS yang belum divaksinasi. Diperkirakan 70 juta orang dewasa dan remaja AS yang layak divaksin belum menerima vaksin, meskipun tersedia gratis secara luas sudah hampir enam bulan lamanya.

Dalam rentang tiga bulan ini, sebanyak 2.000 orang Amerika meninggal per harinya. Sementara itu jutaan orang sudah mulai kehilangan minat melawan penyakit ini. Stadion sepak bola sudah dipenuhi dengan penggemar tanpa masker, beberapa di antaranya terjadi di negara bagian yang melarang vaksinasi dan persyaratan masker.

Mencapai angka 800.000 kematian bukan waktu yang lama, bahkan dengan momok 1 juta kematian membayangi di belakangnya. Terutama, pada musim dingin, saat orang-orang lebih banyak bersosialisasi di dalam ruangan. Semua itu meningkatkan risiko penularan, menurut Ogbonnaya Omenka, seorang profesor dan spesialis kesehatan masyarakat di Universitas Butler di Indianapolis.

“Mengingat tingkat dan ekspektasi saat ini, kemungkinan mencapai 800.000 pada akhir 2021 bukan tidak masuk akal,” kata Omenka. Dan lebih dari itu, “karena akhir cerita terutama bergantung pada preferensi manusia, kita dapat mencapai angka (1 juta) itu.”

“Anda kehilangan pasien akibat COVID dan itu seharusnya tidak terjadi,” kata Debi Delapaz, manajer perawat di UF Health Jacksonville yang mengingat bagaimana rumah sakit itu pada satu waktu sempat mengalami kehilangan delapan pasien sehari akibat COVID-19 selama lonjakan musim panas. “Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.”

Secara nasional, jumlah orang yang sekarang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 telah turun menjadi sekitar 75.000 dari lebih dari 93.000 pada awal September. Kasus baru mengalami penurunan rata-rata sekitar 112.000 per hari, turun sekitar sepertiga selama 2 1/2 minggu terakhir.

Angka ini juga diikuti jumlah kematian yang tampak menurun, rata-rata sekitar 1.900 sehari dibandingkan lebih dari 2.000 sekitar seminggu yang lalu.

Dalam perkembangan lain, Merck mengatakan pada hari Jumat bahwa pil eksperimental bagi mereka yang sakit COVID-19 telah mengurangi rawat inap dan kematian hingga setengahnya. Jika menerima otorisasi dari regulator, pil itu akan menjadi yang pertama mengobati COVID-19 – dan senjata baru yang penting dan mudah digunakan di gudang senjata melawan pandemi.

Hingga kini, semua perawatan yang sekarang disahkan di AS terhadap virus corona memerlukan infus atau suntikan.

Dr. Anthony Fauci, spesialis penyakit menular utama pemerintah, memperingatkan pada hari Jumat bahwa beberapa orang mungkin melihat tren yang menggembirakan ini sebagai alasan untuk tetap tidak divaksinasi.

“Ini kabar baik kita mulai melihat kurva (turun),” katanya. “Itu bukan alasan untuk menjauh dari masalah perlunya divaksinasi.”

“Jika Anda tidak divaksinasi atau memiliki perlindungan dari infeksi alami, virus ini akan menemukan Anda,” kata Mike Osterholm, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minnesota.

(Laporan dikutip dari Associated Press dan USA Today, Sabtu (2/10/2021))

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *