Perjalanan Kasus Idrus Marham Hingga Bebas

0
(0)

Jakarta: Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham bebas dari LP Kelas I Cipinang, Jakarta pada hari Jumat (11/9/2020) pagi. Dikutip dari berbagai sumber, Idrus bebas setelah menjalani hukuman selama 2 tahun penjara akibat kasus suap proyek pembangkit listrik PLTU Riau-1.

“(Idrus Marham) telah dibebaskan pagi ini, 11 September 2020 dari Lapas Kelas I Cipinang,” kata Kabag Humas dan Publikasi Ditjen PAS, Rika Aprianti kepada wartawan, Jumat (11/9/2020).

Nama Idrus yang mantan Menteri Sosial (Mensos) itu diseret dalam kasus itu menyusul Operasi Tangkap Tangan (OTT) rekan separtainya, Eni Saragih. Eni yang kala itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR kala itu didakwa menerima suap dari pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo.

Mulanya, saat merayakan ulang tahun anak dikediamannya pada 13 Juli 2018 lalu, Idrus dan keluarga dikejutkan dengan penangkapan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Eni.

Nama Idrus muncul dalam dakwaan Johannes Kotjo. Dakwaan menyebutkan bahwa Eni mulanya diperintahkan oleh mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto untuk membantu Johannes mendapatkan proyek PLTU Riau-1.

Nahas, kala itu Novanto ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP.

Melihat bosnya bermasalah, Eni pun berinisiatif melapor kepada Idrus terkait perkembangan pengamanan proyek PLTU Riau-1.

KPK menyebut ada sejumlah pertemuan yang dilakukan Idrus dengan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan para tersangka, Eni dan Johannes.

Pertemuan tersebut teridentifikasi lewat rekaman CCTV yang disita penyidik dari serangkaian penggeledahan di beberapa lokasi, termasuk di kantor dan rumah Sofyan.

Akibatnya, tepat tanggal 24 Agustus, KPK pun mengumumkan status Idrus yang semula menjadi saksi, berubah menjadi tersangka.

Posisi sebagai Mensos dan Sekjen Golkar pun terpaksa harus dilepas Idrus.

Selang beberapa bulan menjalani sidang, tepat 23 April 2019, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Idrus tiga tahun penjara. Idrus dinilai bersalah karena bersama Eni menerima suap Rp2.25 miliar dari Johannes.

Meski demikian, Idrus tidak mau kalah, dia pun mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Alih-alih dibebaskan ataupun dikurangi, hakim malah menambah hukuman Idrus menjadi 5 tahun penjara.

Seakan tidak mau menyerah, Idrus lalu menempuh jalur kasasi ke Mahkamah Agung. Disana, MA mengebiri masa hukuman Idrus menjadi 2 tahun penjara. (Foto: Dok. Antara/ Rivan Lingga/ foc)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *