Hingga Hari ini Kasus Meninggal akibat Covid-19 di Ibu Kota Capai 3.000 Jiwa

Jakarta – Satgas Covid-19 Pemprov DKI Jakarta mencatat penambahan kasus positif pada hari ini sebanyak 584 kasus. Secara kumulatif, kasus positif Covid-19 di ibu kota menembus angka 20.470 jiwa.

Dari jumlah tersebut, 12.613 orang dinyatakan telah sembuh, sedangkan 820 orang meninggal dunia. Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta saat ini sebanyak 7.037 kasus, yakni orang yang masih dirawat dan atau menjalani isolasi.

Sampai hari ini, DKI Jakarta mencatatkan 3.336 jiwa yang meninggal terkait virus. Selain dari kasus positif, angka kematian juga bisa dilihat dari jumlah kasus suspek sebanyak 2.226 dan kasus probable sebesar 290.

Kasus suspek ialah orang dengan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan memiliki riwayat bepergian ke daerah dengan transmisi lokal. Kriteria suspek kedua, adalah orang yang dalam waktu 14 hari terakhir pernah kontak dengan kasus positif atau kasus probable.

Sedangkan kasus probable adalah orang dengan saluran pernafasan berat (ARDS) yang kemudian meninggal. Secara klinis pasien tersebut meyakinkan sebagai pasien Covid-19 namun belum terkonfirmasi positif lewat RT-PCR.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Fify Mulyani memaparkan, berdasarkan data terkini Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah dilakukan tes PCR sebanyak 5.258 spesimen.

“4.752 di antaranya untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 542 positif dan 4.210 negatif. Untuk jumlah tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 36.241,” terangnya, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan, WHO telah menetapkan standar jumlah tes PCR adalah 1.000 orang per 1 juta penduduk per minggu. Berdasarkan WHO, Jakarta harus melakukan pemeriksaan PCR minimum pada 10.645 orang (bukan spesimen) per minggu, atau 1.521 orang per hari.

“Saat ini jumlah tes PCR di Jakarta setiap pekan adalah 4X lipat standar WHO,” imbuhnya.

Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 6,6 persen, sedangkan Indonesia sebesar 13,9 persen. WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5 persen.

Namun, persentase kasus positif ini hanya bisa dianggap valid bila standar jumlah tes yang dilakukan telah terpenuhi. Bila jumlah tesnya sedikit (tidak memenuhi standar WHO), maka indikator persentase kasus positif patut diragukan. (Msh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *