Aksi Mahasiswa UMB Tuntut Subsidi Pada Masa Pandemi Covid 19

0
(0)

Hariannasional.com, Jakarta – Ratusan Mahasiswa Mercubuana berunjuk rasa di depan Kampus Mecubuana, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (29/6/2020). Mereka menuntut pihak rektorat untuk mensubsidi biaya kampus selama Pandemi Covid-19.

Koordinator lapangan Aliansi Mahasiswa Universitas Mercubuana Handy Muharam mengatakan bahwa para mahasiswa menuntut kompensasi pemotongan biaya kuliah.

Hal itu lantaran selama Pandemi Covid-19, para mahasiswa tidak memakai fasilitas kampus seperti listrik, AC, dan ruangan kelas.

Menurutnya pihak rektorat Mercubuana saat ini belum menjalankan transparansi biaya kuliah selama Pandemi Covid-19.
pa
“Kami mempertanyakan transparansi kampus. Selama pandemi Covi-19 ini alokasi dana kemana?” kata Handy ditemui di tengah aksi unjuk rasa.

Pasalnya kata Handy, hingga saat ini mahasiswa belum mendapatkan uang keringanan selama kuliah jarak jauh.

Oleh karena itu para mahasiswa juga meminta subsidi kuota untuk menunjang kuliah online.

Sementara itu mahasiswa lainnya yang berunjuk rasa Alif Faizal mengatakan bahwa mahasiswa juga mempertanyakan ketaatan kampus dalam imbauan yang sudah dilayangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pasalnya sampai saat ini, Universitas Mercubuana dianggap belum mengalokasikan dana fasilitas untuk subsidi penunjang kuliah online.

“Sampai saat ini kampus sama sekali belum mengeluarkan kebijakan yang dirasa sesuai,” jelas Alif.

Misalnya saja kebijakan pertama yang sudah dikeluarkan Universitas Mercubuana baru penangguhan biaya 50%. Kebijakan itu dirasa tidak efektif, lantaran bentuknya bukan pemotongan, namun penundaan biaya yang harus dibayar.

Sehingga sisa dari tagihan tetap harus dituntaskan di semester depan.

Alif khawatir kebijakan itu malah menjadi beban baru bagi mahasiswa di semester depan ketika pandemi Covid-19 berakhir.

Selain itu, kebijakan lain yang dirasa tidak efektif ialah bantuan berupa program apresiasi pejuang masa depan yang bertahap.

Kebijakan itu dirasa tidak efektif lantaran kerap salah sasaran. Dimana kerap mahasiswa mampu yang justru mendapatkan bantuan tersebut.

“Karena di program itu hanya mahasiswa dengan IPK 3.00 ke atas yang berhak dapatkan. Bahkan kouta satu prodi hanya 10 mahasiswa,”jelas Alif.

Dalam penerapannya menurut Alif, mahasiswa mampu yang justru mendapatkan bantuan tersebut.

Sedangkan mahasiswa tidak mampu tidak mendapatkan bantuan lantaran tidak lolos di IPK.

Para mahasiswa dalam aksi unjuk rasa berjalan tertib. Tidak terjadi kemacetan di sekitar ruas Jalan Meruya Selatan.

Para mahasiswa hanya beraksi di depan gerbang kampus dan hanya sedikit memakan bahu jalan.

Menurut Alif para mahasiswa sudah berunjuk rasa sejak pukul 13.30 WIB. Namun sampai saat ini belum ada perwakilan kampus yang keluar untuk menanggapi aksi protes mahasiswa.

Alif menjamin, pihaknya akan mengadukan rektorat kampus ke Kemendikbud jika tuntutan mahasiswa tidak ditanggapi oleh pihak kampus.

Sementara itu Kapolsek Kembangan Kompol Imam Irawan yang berada di lokasi menyebut aksi unjuk rasa berjalan normal dan tertib sejak pukul 13.30 WIB.

Pukul 16.00 WIB terpantau tidak terjadi kemacetan selama aksi unjuk rasa berlangsung lantaran tidak ada ada aksi pembakaran ban dan kerusuhan.

Dari pantauan ada tujuh pria berseragam polisi berdiri di sekitaran dekat gedung Mercubuana untuk mengamankan aksi unjuk rasa.

“Unjuk rasa ini sudah memiliki izin dan aksi juga berlangsung tertib sejak Senin siang,” jelas Imam. (Zdn)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *