Ini Tips Agar Masyarakat Terhindar dari Hoaks

0
(0)

Jakarta : Berita palsu atau hoaks bukanlah barang baru. Sejak manusia diciptakan, virus hoaks sudah ada dan terus berkembang seiring zaman. Banjir bandang informasi menyebabkan masyarakat sulit membedakan informasi mana yang benar dan bohong. Ini tantangan dalam mengelola informasi.

“Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang suka ngobrol. Lebih-lebih di media sosial, dimana pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia menyentuh angka puluhan juta,” ungkap Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, pada Webinar Perpusnas “Mencegah Hoaks Dengan Membaca”, Jumat (26/6/2020) siang.

Najwa mengakui, ada beberapa alasan kenapa hoaks bisa beredar cepat. Pertama, karakter masyarakat Indonesia yang suka ngobrol, sehingga lebih rentan terkena hoaks. Kedua, masyarakat Indonesia juga lebih percaya jika mendapatkan informasi dari orang-orang terdekat. Ketiga, situasi yang mempengaruhi terlebih di saat pandemi.

“Ini yang membuat hoaks tumbuh subur karena masyarakat masih sulit mencari referensi Covid-19 yang terhitung baru,” imbuh dia.

Najwa berpesan agar masyarakat berhati-hati dengan judul berita yang provokatif, cermati alamat situs, abal-abal atau tidak. Lalu, cek keaslian foto. Saat ini sudah banyak aplikasi yang disediakan untuk mengecek keaslian sumber informasi, gambar dan foto-foto.

Ia menambahkan, mewabahnya hoaks di Indonesia salah satu sebabnya adalah belum ajegnya budaya baca secara fisik dengan buku-buku, lalu dengan cepat beralih ke budaya baca digital.

Menurut Najwa, budaya baca digital memerlukan kemampuan literasi yang kuat. Dan masyarakat Indonesia masih rentan karena belum mampu memilih serta memilah informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan.

“Membaca buku secara fisik akan membawa karakter yang tidak mudah percaya dengan kiriman informasi. Punya rasa penasaran, berhati hati dalam mengambil keputusan, dan terbiasa mencari benang merah dari yang dibacanya. Tidak mudah dibohongi. Sedangkan membaca buku secara digital, biasanya yang dibaca hanya poin-poin atau sepotong-potong,” urai Nana, sapaan akrab Najwa Shihab.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional Perpusnas, Woro Titi Haryanti mengungkapkan, hoaks sudah muncul pada abad ke-17 dan terus berkembang seiring kemajuan teknologi informasi komunikasi.

“Manusia cenderung ingin terlihat eksklusif. Menjadi yang pertama membagikan informasi. Apalagi jika informasi tersebut diperoleh dari lingkungan terdekat, seperti keluarga atau teman dekat,” jelasnya.

Lebih jauh Woro Titi menjabarkan, ada beberapa jenis hoaks yang biasa beredar di masyarakat. Ada yang seperti pesan berantai, penipuan online, pencemaran nama baik, kisah yang sedih atau memilukan, hingga hoax seputar tentang mitos-mitos (urban legend).

Agar tidak terpapar berita atau informasi hoax, Woro Titi meminta siapapun ketika mendapatkan informasi yang ganjil untuk mendiamkan sejenak, kemudian telusuri melalui sumber atau portal yang terpercaya. Bisa juga merujuk kepada perpustakaan sebelum men-share kembali.

“Jangan ikuti sensasi atau tren-tren yang berkembang. Setiap manusia harus bertanggung jawab dengan jarinya,” pesan Woro Titi.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *