Pertumbuhan Ekonomi Tak Berarti Jika Ribuan Rakyat Meninggal

0
(0)

Jakarta – Paradigma pemerintah tentang new normal atau normal baru maupun adaptasi kebiasaan baru dinilai keliru. Bagaimana bisa normal baru yang fokus penyelamatan ekonomi disandingkan dengan penanggulangan pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembatasan interaksi sosial.

Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono memandang, mempromosikan ekonomi di tengah pandemi lewat normal baru ini sama saja membunuh nyawa lebih banyak. Tiada artinya perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi jika hal itu akan membahayakan.

“Pertumbuhan ekonomi hanyalah alat, tujuan akhir yang harus dikejar adalah kualitas dan kebahagiaan hidup masyarakat, dimana faktor terpenting yang berkontribusi untuk itu adalah tetap hidup, tidak mati karena pandemi!,” tuturnya, Kamis (11/6).

Menurut Yusuf, ketika pandemi yang masih jauh dari mereda, maka memaksakan adopsi normal baru adalah sebuah pertaruhan besar. Keputusan pemerintah menggerakkan aktivitas kembali bisa berpotensi menjadi ledakan wabah kedua.

“Kekhawatiran akan ledakan wabah ke-dua dari normal baru sangat beralasan. Jika dengan PSBB saja pandemi belum mereda, terlebih lagi tanpa PSBB,” ungkapnya.

“Ditambah pada bulan Juni ini kita juga masih menanti kepastian apakah terdapat lonjakan kasus dari lebaran dan mudik, terkait lamanya waktu pelaporan dari pengujian specimen,” ucap Yusuf.

Dia menjelasakan, case fatality rate (CFR) Indonesia saat ini sudah di kisaran 6 persen. Jika kematian PDP dan ODP turut diperhitungkan, CFR Indonesia bahkan berpotensi menembus 15 persen, setara dengan negara-negara yang kini paling keras dihantam Covid-19 seperti Perancis, Belgia, Italia dan Inggris.

Ia khawatir pelaksanaan normal baru memicu eskalasi ledakan wabah kedua dan menjadi tak terkendali. Dampaknya, sistem kesehatan dipastikan akan tumbang dan korban jiwa akan menjadi sangat besar.

“Maka menjadi sangat mahal biaya yang harus dibayar dari new normal di tengah pandemi meski diiringi protokol kewaspadaan dan kebijakan rem darurat (emergency brake policy) sekalipun, karena nyawa yang hilang tidak akan bisa dipulihkan kembali,” tuturnya. (SD)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *