Demokrat: Ngapain Buru-Buru Revisi UU Pemilu?

0
(0)

Jakarta – Politikus Parta Demokrat, Jansen Sitindaon, mengeritik langkah Komisi II DPR yang tengah membahas revisi Undang-Undang Pemilihan Umum (UU Pemilu). Menurut dia, pembahasan revisi itu terlalu terburu-buru karena pemilu bukan hanya kepentinga partai politik saja.

“Pemilu kan baru saja selesai. Ngapain juga kita buru-buru bahas RUU Pemilu lagi. Lebih baik jangan tergesa-gesa diputuskan. Apalagi ada beberapa poin krusial yang mau diubah. Karena Pemilu kan bukan soal kepentingan partai politik saja. Malah yang utama soal suara rakyatnya. Jadi banyak pihak yang harus didengar,” kata Jansen, hari ini (11/6).

Terkait ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) yang menjadi salah satu poin pembahasan, Jansen menilai angka 4 persen sudah tepat, tidak perlu dinaikkan menjadi 7 persen. Angka itu moderat, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. “Ini angka moderat yang bisa mengakomodasi semua suara di Indonesia,” ucap Jansen.

Menurut Jansen, jika dinaikkan terlalu tinggi, maka banyak suara rakyat yang hangus dan terbuang. Padahal, Indonesia adalah negara dengan masyarakat beragam. Pilihan politik masyarakat di pemilu juga ikut menjadi majemuk dan beragam.

“Kalau PT dinaikkan, keragaman ini berpotensi tidak terakomdoasi di parlemen karena suaranya hilang,” ucap Jansen. Dia lalu meminta agar DPR mempertimbangkan lagi angkar PT tersebut. Dia menyebut Indonesia harus memiliki lebih dari dua calon presiden (capres).

“Angkanya perlu diubah dan direlaksasi agar tidak lahir bagi dua pasangan calon presiden yang dampaknya sangat luar biasa membelah masyarakat. Harus dicari angka moderat yang berpeluang melahirkan lebih dari dua psangan calon presiden, sehingga pilihan masyarakat juga semakin banyak,” ucap Jansen. (SD)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *