Nadiem Makarim Dinilai Gagal Kelola Pendidikan di Tengah Pandemi

0
(0)

Jakarta – Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Agus Mulyomo Herlambang, menilai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim gagal menangani pengelolaan pendidikan di tengah wabah Covid-19.

Dia menilai Nadiem yang juga dikenal sebagai menteri milenial hanya sebatas menyampaikan narasi pemanis saat berbicara masalah pendidikan. Namun, realisasi dari ucapan-ucapan Nadiem masih nihil. Bahkan gagap.

“Kami mempunyai harapan luar biasa kepada Nadiem Makarim untuk menata sistem pendidikan di Indonesia. Dia sudah banyak bicara terkait penataan sistem pendidikan di berbagai tempat. Namun saat Covid-19, Mas Menteri (Nadiem) terkesan gagap saat menghadapi tuntutan untuk menata sistem pendidikan di saat wabah Covid-19,” ucap Agus dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (9/6).

Seharusnya sektor pendidikan menjaddi salah satu fokus utama di tengah kondisi saat ini. Masa depan jutaan pelajar, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menjadi taruhan jika Nadiem gagal.

“Kita harusya bisa belajar dari Jepang di mana saat terjaddi tragedi bom Hirosshima yang begitu dahsyat, pemerintah mereka memprioritaskan keselamatan guru dibandingkan elemen masyarakat lain karena mereka sadar bahwa hanya dengan pendidikan-lah mereka bisa bangkit dari kehancuran akibat bom atom dari sekutu,” ucap Agus.

Agus melihat Nadiem tidak memiliki terobosan cerdas dalam menjaga kualitas pendidikan nasional di tengah bencana nonalam saat ini. Demikian juga sikap pemerintah pusat yang hanya fokus menangani ekonomi dan mengabaikan pendidikan.

“Ada kesan jika respons Kemendikbud begitu lamban dalam menyikapi kegelisahan mahasiswa terdampak Covid-19. Contohnya ada aspirasi mahasiswa mendapatkan pemotongan uang kuliah tunggal (UKT) karena kesulitan ekonomi banyak orang tua, tapi malah dijawab Kemendikbud jika UKT tidak akan naik,” ujar dia.

Kegagapan Nadiem terlihat dari tata kelola pembelajaran jarak jauh yang tidak efektif sebagai alternatif saat sekolah dan kampus ditutup. Pembelajaran jarak jauh tidak disertai perencanaan matang, sehingga terkesan asal jalan saja.

“Masih ada persoalan teknis terkait perkuliahan jarak jauh di mana jaringan internet belum merata, sehingga ada mahasiswa yang terpaksa tidak lulus karena tidak bisa ikut perkuliahan karena minimnya jaringan internet,” ucap Agus. (Aza)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *