Mengatasi Kecanduan HP bagi Buah Hati

Jakarta, HN – Mas! Gimana ya, si Fadel, Farel dan Alfarisi sudah pada kenal HP. Tanpa diajari pun mereka sudah pada jago,”

Demikian curhat Marsya kepada suaminya bernama Mandala perihal ketiga anak kembarnya saat berada di meja makan sebelum berangkat kerja.

“Era Digital seperti saat ini, kita hampir sangat susah, kalau ga boleh dikatakan mustahil, untuk menghindarkan diri dari HP. Ya kecuali mau hidup di hutan, baru bisa. Sejauh yang kita bisa sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memberi batas-batas yang jelas,” timpal Mandala.

“Gimana aku gak khawatir Mas! Di mana-mana nih, orang pada sibuk dengan HP. Di kereta, di mobil, di motor dan di tempat publik lainnya. Semua fokus pada HP. Bahkan nih, satu keluarga kumpul kadang hanya jasadnya yang silaturahim, tapi ruhnya melayang ke dunia maya. Aku khawatir, kalau kita ga mengantisipasi sejak dini, anak-anak kita bakal terimbas,” sahut Marsya.

“Aku ada lima ide yang barangkali nanti bisa kita diskusikan secara panjang lebar berikut aplikasinya supaya bukan sekadar teoritis tapi juga aplikatif,” sambung Mandala.

Ide yang disampaikan Mandala kepada sang istri, secara ringkas bisa disebutkan sebagai berikut:

Pertama, dimulai dari orang tua. Maksudnya, orang tua itu adalah cermin bagi anaknya. Saat orang tua sibuk main HP di depan anak-anak, maka sang anak pasti menirunya.

Langkah aplikatifnya, adalah membatasi penggunaan HP di depan anak-anak. Sebagai ganti dari HP adalah perhatian penuh orang tua kepada anaknya. Jangan sampai anak hanya mendapatkan waktu sisa.

Kedua, menggali kembali kebutuhan dasar anak. Di antara yang mendasar adalah kebutuhan akan hiburan dan permainan. Banyak anak-anak yang lebih suka main HP gara-gara orang tuanya tidak asyik.

Kehadiran ayah atau ibu di rumah kadang terlalu formalistik, kaku dan kurang menyenangkan. Orang tua merasa sudah mengerjakan tugasnya setelah memenuhi kebutuhan fisik anak.
Langkah aplikatifnya adalah menjadi orang tua yang asyik dan menyenangkan bagi anak. Kalau anak nangis misalnya, tidak langsung diberi HP, tapi bisa diberi alternatif lain, seperti diajak bermain, bercanda dan bercengkrama.

Ketiga, memberi batasan yang proporsional. Kita hidup di era digital, tidak mungkin HP bisa dijauh 100 %. Maka, cara yang paling konkret adalah memberikan batasan yang jelas.

Misalnya, memiliki waktu khusus di mana pada momen itu anak-anak boleh main HP. Namun, anak-anak tidak dibiarkan sendiri tanpa pengawasan orang tua. Ayah dan ibu bertugas sebagai pengarah sang buah hati agar tidak melampaui batas dalam penggunaan HP.

Keempat, mengembangkan potensi anak melalui HP. Maksudnya, anak-anak bukan saja diberi batasan tapi juga pengembangan potensi diri.

Setiap anak terlahir dengan potensi masing-masing. Orang tua yang sangat perhatian kepada anak-anaknya, pasti tahu apa potensi anaknya masing-masing. Ada yang potensinya pada hafalan, seni, bela diri dan lain sebagainya.

Langkah aplikatifnya, dengan bimbingan orang tua anak-anak bisa diarahkan pada bacaan atau tontonan yang sesuai dengan bakatnya. Di sini, anak bukan hanya merasa senang karena kebutuhannya diapresiasi, tapi juga merasa puas karena potensinya bisa disalurkan dengan baik.

Kelima, menghidupkan kembali budaya makan bareng dalam satu meja makan. Di situ adalah momen yang tepat untuk memperat hubungan, mendengar keluhan, menyampaikan suara hati dan semacamnya.

Pada momen ini, tidak ada yang pegang HP. Orang tua menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Memperhatikan dengan tulus segenap yang disampaikan buah hatinya.

Setelah mendengar ide suami, Marsya memberikan komentar, “Idenya cukup bagus Mas, tapi perlu dibuktikan dalam keluarga kita terlebih dahulu. Dan ada satu celah yang belum tercakup dalam ide Mas, yaitu bagaimana mengatasi kecanduan HP anak-anak ketika kecanduannya itu bukan dari internal keluarga, tapi justru pengaruh dari luar rumah. Bisa lingkungan tetangga, sekolah, masyarakat dan sebagainya?”

“O ya, itu belum terjawab. Nanti aku renungkan di kantor ya di waktu senggang. Aku sudah telat nih, mau berangkat dulu ya sayang!” (Aza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *