Bukan Hanya Dikorupsi, Reformasi Juga Dikhianati, Ini Kata Pengamat

Spread the love

Jakarta – 22 tahun berlalu, ketika elemen mahasiswa Indonesia menyampaikan aspirasinya. Kemudian disusul dengan turunnya Presiden ke-2 RI HM Soeharto yang menyatakan berhenti dari jabatannya. Saat itu sekaligus menandai era orde baru berakhir, reformasi pun lahir.

Gerakan mahasiswa pada tahun 1998 menyuarakan beberapa tuntutan sebagai agenda awal reformasi. Beberapa di antara tuntutan penurunan harga hingga pemberantasan korupsi-kolusi-nepotisme (KKN). Namun, wajah reformasi saat ini dinilai justru sudah melenceng dari cita-cita awal.

Tak heran berbagai demo dan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa waktu lalu secara besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia, yang melakukan aksi turun ke jalan, bahkan timbul korban jiwa beberapa mahasiswa dan siswa, salah satunya mengusung target menuntaskan agenda reformasi yang belum tuntas. Rezim saat ini dinilai telah melenceng dari amanat reformasi yang diperjuangkan mahasiswa.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, mengatakan, saat ini memang ada kebebasan berpendapat di muka umum serta ada pemilu yang bebas dan independen tiap lima tahun sekali. Namun yang jelas tren demokrasi Indonesia mengalami kemunduran.

“Misalnya saja persekusi terhadap minoritas, penegakan hukum yang belum transparan, dan merebaknya korupsi. Saya pikir arah perkembangan reformasi Indonesia semakin mundur. Secara sistem masih tetap demokratis namun secara kualitas, menunjukkan gejala mundur,” ucap Wasisto kepada Indonesiainside.id, Kamis(21/5).

Untuk memperbaiki carut-marut wajah reformasi itu, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang banyak. “Saya pikir dimulai dari hal sederhana tapi sulit dilakukan: Penegakan HAM dan perlindungan terhadap minoritas. Baru setelah bicara penegakan korupsi dan lain sebagainya,” kata dia.

Sementara analis Sosial Politik UNJ, Ubedilah Badrun, menilai reformasi saat ini tengah dikhianati. Dia membeberkan beberapa indikasi yang menunjukan bahwa reformasi saat ini tengah dikorupsi.

Pertama, dalam lima tahun terakhir indeks demokrasi Indonesia cenderung memburuk. Bahkan laporan terakhir The Economist Intelligence Unit (2019) menyebutkan indikator kebebasan sipil di Indonesia hanya mendapat nilai 5,5 dan secara umum indeks demokrasi Indonesia hanya mencapai angka 6,48 dalam skala 0-10.

Kedua, kesejahteraan rakyat. Hal itu bisa dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan jumlah pengangguran. Dalam lima tahun tetakhir angka pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan melambat diangka 5 persen padahal janji politik Presiden Joko Widodo 7 persen.

Bahkan di kwartal I tahun 2020 ini angka pertumbuhan ekonomi Indonesia makin memburuk diangka 2,97 persen secara year on year (yoy), jauh dari target. Sebab Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 akan tertahan di kisaran 4,5 persen sampai 4,6 persen karena virus corona.



Berdasarkan data dari Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas, 2020) memproyeksikan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia akan bertambah 4,22 juta orang pada 2020. Sementara jumlah penduduk miskin pada akhir 2020 diperkirakan akan bertambah 2 juta orang dibandingkan data September 2019.

Ketiga, Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam lima tahun terakhir sampai saat ini tidak ada kemajuan. Kasus pelanggaran HAM yang lama tidak ada satupun yang dituntaskan, dari kasus kerusuhan Mei 1998 sampai kasus Munir. Bahkan kasus baru bermunculan. Pemerintah saat ini terlihat mengingkari janji penegakan HAM sebagaimana yang dicantumkan dalam Program Nawacita.

Keempat, korupsi. Tindak pidana korupsi juga masih parah. Kasus korupsi milaran hingga triliunan rupiah masih terjadi. Dari kasus E-KTP, Jiwasraya yang nilainya triliunan rupiah hingga kasus Nurhadi dan Harun Masiku yang bernilai milyaran rupiah.

“Data-data diatas tentu meyakinkan siapapun bahwa benar reformasi telah dikorupsi dan dikhianati,” kata Ubedillah.(EP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *